(Tribute to pengalaman pendakian gunung Raung, saat ngecamp di Camp 7 / malam kedua pendakian)
Angin semilir berhembus menyatukan harmonika canda. Pada sebuah lembah, sedang aku terangkul oleh kehangatan menuju malam. Akankah lelah, luntur oleh segala hangatnya kecantikan malam? Sejak tidurku kadang tak nyenyak oleh dingin.
Barat yang menjingga layaknya pastikan antara lembah, penantian dan harapan. “Sedikit lagi,” kataku. Jangan tanya seberapa lelah aku menuju malam, saksikanlah setelahnya. Yang tidak ingin kulepaskan, antara pertemanan, petualangan, dan romansa.
Detik menuju menit, jingga menuju gelap. Tapi tetap benderang karena ia. Harapan kemarin yang sekarang aku lihatnya ia cantik diatas sana. Bulan yang sama seperti lalu, saat - saat di Ranu Kumbolo maupun Surya Kencana, tapi rasa yang beda. Entah kenapa ia lebih cantik. Ohh mungkin saja karena pendarannya, aku dapat menyaksikan gugusan Dataran Tinggi Yang di Barat, hingga gagahnya atap tertinggi Jawa yang sesekali mengepulkan asap abu.
Aku dan sepuluh lainnya terpukau dengan semesta hari ini. Menghilangkan setiap keputusaasaan dengan decak kagum yang tersaji. Apalagi ia, yang paling terang malam ini, seperti hendak menerangi terangnya masa depanku, setelah ini.
Bulan malam seolah membisikkan, “nikmati hari - harimu, kau akan benderang setelah ini.” Itu sepintas saja, tak lebih. Kenyataan tidak bisa bersembunyi. Seperti pucuk - pucuk daun yang menjadi dingin. Aku tetap akan melawan terjalnya pijakan, mungkin hinggah harus merintih. Tertatih hingga bosan menahan letih.
Tapi langit tak seperti kemarin. Binarnya getarkan gelora di dada. Mungkin juga karena gemintang yang memberikan nuansa manis. Cassiopeia menari, Sirius tetap menjadi pemburu, serta Orion yang menatapkan untuk menjadi lebih berani. Tapi tetap ia yang paling ranum. Seperti akan sangat malu jika ¾ jalanku terhenti karena ketakutan.
Kembali bulan, lengkap dengan purnamanya, kali ini muncul di mimpi. Lebih terasa jelas setiap dimensinya. Seperti mati yang sebenarnya kebanggaan. Seperti jatuh yang sebenarnya kehangatan. Atau diterpa batu yang sebenarnya keindahan. Kirananya bentangkan jalan berbunga antara Bendera - Sejati. Seperti sekilas mudah. Delusi yang rupayan, semoga saja senyuman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar