Sabtu, 27 Juni 2015

Catatan Pendakian Gunung Raung 31 Mei - 4 Juni 2015 (Full Version)


Bagi gue, gunung Raung dengan puncaknya yang bernama Sejati (3344 MDPL) merupakan gunung tersulit yang pernah gw daki. Alasannya setelah gue pikir - pikir itu karena tiga hal, jarang air, track panjang, dan mesti panjat tebing.




 31 Mei - 5 Juni 2015, gw (Fardil) bersama 10 rekan gue yang hebat banget, yaitu Kresna (Jakarta), Bang Erwin (Jakarta), Bang Petrus (Jakarta), Bang Zuhri / Zurex (Jakarta), Bang Zainal / Bugis (Jakarta), Afif (Jogja), Bang Bond (Lombok), Inyok (Lombok), Bang Sophian (Jember), dan Lukman (jember), sepakat untuk menapaki setiap getir tantangan yang disajikan gunung Raung ini, via Kalibaru. Berikut catatan perjalanannya.

 31 Mei 2015

 Hari ini temen gw menikah. Harri namanya. Karena alasan gw gak mau ngelewatin hari pernikahan temen terbaik gw ini, gw akhirnya merelakan tiket kereta kemarin malam (Bogowonto + Sri Tanjung) untuk gw tuker jadi tiket pesawat Air Asia dengan keberangkatan jam 22.15 WIB.

 Jam 10 malem gw tiba di bandara Soetta dengan berbagai macam ujian yang gue lewati. Mulai dari tas nyaris ilang, hampir terlambat ke bandara, muter - muter salah terminal, hingga lari - larian di Bandara. (Versi cerita bagian ini terpisah)

 1 Juni 2015

 Gw tiba di Bandara Juanda jam 1 dini hari, sementara yang lain udah tiba di basecamp pak Soeto. Gw langsung bergegas ke terminal Purabaya (Bungur Asih), naik bus ke arah Jember. Jam 2 bus baru jalan setelah ngetem satu jam. Lama perjalanan sampai Jember kurang lebih 3 setengah jam, lumayan buat tidur. Jam setengah 6, gw dibangunin kenek bus untuk ganti bus ke arah Banyuwangi. Gw pindah ke bus tersebut, dan melakukan perjalanan kurang lebih 2 jam. Lagi - lagi lumayan buat tidur.

 Jam 7.30 gw sampe di Kalibaru, langsung disambut ojek yang menawarkan, “mau ke rumah pak Soeto ya Mas?”. Gw pun bilang “iya”, tapi dengan sedikit acara mampir ke pasar, beli logistik yang blom lengkap gw bawa dari Jakarta, kaya telur, sop - sopan, kering - keringan, bumbu dapur, beras, aqua, biskuit, buah - buahan, dan banyak lainnya.

 Setelah kelar belanja - belanji, gw langsung minta diantarkan ke rumah Pak Soeto. Jalan yang dilewati awalnya masuk - masuk area pemukiman warga, terus berganti ke beberapa tanaman kelolaan PT.PN (lupa urutannya brp) kaya wortel, jagung, kopi dan sebagainya. 30 menit cuman naik motor dari pasar ke Rumah Pak Soeto, gw langsung disambut hangat oleh teman - teman gue, karena gue adalah pasukan terakhir yang mengganjilkan (iyalah ganjil, orang dari 10 jadi 11) jumlah kita.

 Jam 8.00. Kami makan sarapan pagi yang udah disiapkan bu Soeto, yaitu nasi pecel + ayam goreng, itung - itung sembari kenalan dan mengakrabkan diri. Setelah itu kita packing peralatan, menyeimbangkan berat beban carrier, jangan sampe ada yang terlalu berat. Kita mesti pikul bareng - bareng. FYI satu orang itu minimal bawa air 6 liter (4 botol aqua), buat yang bawa tenda. Kalo yang nggak bawa tenda, atau masih lowong, bisa up to 10 liter.

 Jam 9.00. Kelar semua dipacking, udah harum juga guenya, kitapun siap melanjutkan cerita cool kita “mendaki ke Puncak Raung Sejati”. Tak lupa sembari dilepas oleh ibu Soeto dan keluarga, kami berfoto dan mendokumentasikan acara perpisahan ini, dengan sebuah yel - yel pembakar gelora asmara. Ketika pimpinan Kresna meneriakkan kata , “MERAUUUUUUNG!!”, serentak kita jawab “SEJATIIII”.

 Perjalanan dimulai. Tukang ojek yang berjumlah 11 orang siap ngangkut kerir beserta orangnya ke pos Pak Soenarya, (ini rumah terakhir di desa Wonorejo, setelah itu udah masuk hutan). Perjalanan memakan waktu 30 menit, dengan medan melewati perkebunana PT. PN yang asri, juga ada air mengalir dibawahnya. Beuhhh jatuh cinta lah elu kalo liat pemandangan itu.

 Jam 09.30 kami tiba di pos Pak Soenarya. Dilepas sama tukang ojek, silaturrahmi dikit dengan keluarga pak Soenarya, habis itu….”petualangan dimulai!”. Bang Erwin selaku yang paling senior diantara kita memimping doa agar kami semua selamat, sampe rumah masing - masing. Pimpinan Kresna jalan paling depan selaku leader. Dan di belakang ada bang Sofyan yang bertugas jadi sweeper. Saya mah apa atuh, cuma penggembira di tengah.

 1 jam pertama vegetasi yang kita lewatin berupa kebun kopi, dan kayu - kayu sejenis rotan dan cendana yang udah ditebangin (sayang banget). Kontur permukaan tanah lumayan asik, dataaaar terus, kadang naik tapi gak miring, kadang turun. Cuma lebar jalur pendakian gak seperti gunung - gunung konvensional pada umumnya, rada sempit dan nyaris hilang (ketutup vegetasi).

 Jam 11.00, kami tiba di Camp 1. Ditandai dengan sebuah tanah lapang dengan kapasitas 2 - 3 tenda. Kami menghela napas selama kurang lebih 15 menit, sembari guyon - guyon gaje dengan lawakan khasnya bang Zurex dan bang Bugis, yang kemudian kita tau peran dia sejatinya di regu ini adalah sebagai pencair suasana.

 Jam 11.15, kami jalan lagi dengan target nyampe ke camp 2 secepat mungkin. Beuhh ternyata jauh banget. Bahkan jam 1 siang pun, kami belum sampe ke camp 2. Baru sampe di tengah - tengah jalan. Dan dikarenakan penghuni perut yang udah ngamuk, minta dikasi asupan, akhirnya kami putuskan untuk makan siang. Lauknya nasi yang dibungkus dari rumah Pak Soeto dengan ayam goreng, dan cabe tumbuk khas lombok yang dibawa Inyok dan Bang Bond. Rasanya? jangan ditanya, guriiiiiihhhhh banget.

 Jam 13.20, kami melanjutkan perjalanan ke camp 2. Kurang lebih jam 14.00 kami sampe dan langsung menghela napas. Disini kami ketemu dua pendaki senior, tapi yang paling terkenal itu ibu - ibu sekitar umur 50 tahunan. Kami manggilnya tante Eva, lumayan terkenal sih dikalangan Komunitas Pendaki. Sempet diceramahin juga, diceritain yang seru - seru, sampe bertukar pikiran soal “sampah di gunung”. Jam 14.30 kami dengan dua pendaki senior tersebut jalan barengan, tapi lama  kelamaan ehh ketinggalan. Menuju pos 3, vegetasi didominasi dengan dedaunan yang menjulur ke jalur, kadang berduri, daunnya, batangnya, serta akarnya. Kondisi kontur masih relatif datar, belum terlalu menanjak, hingga sampe ke pertigaan pos mata air (kalau lurus ambil air, kalau kanan ke pos 3). Nah dari situ track mulai menunjukkan jati dirinya, nanjak kadang terjal. Tapi masih suka ada bonus sih, sedikit - sedikit.

 Jam 16.00 kami tiba di Camp 3. Tau hari udah sore, dan badan juga udah pegel. Akhirnya pimpinan memutuskan untuk buka tenda di sini. Nah camp 3 ini ditandai dengan tanah lapang muat sekitar 5 tenda. As usual, kalo udah ketemu camping ground itu agendanya adalah masak - masak, sholat, cerita - cerita, ambil dokumentasi, dan tidur.

2 Juni 2015

 05.30 : kami memulai hari dengan menunaikan sholat subuh bagi yang muslim. Kemudian dilanjut mempersiapkan sarapan yang dinakhodai oleh bang Bond dan Inyok (spesialis masak - memasak). Sembari nunggu kelar masakannya, sebagian melakukan pemanasan pagi, ada juga yang menuntaskan panggilan alam.

 08.00 : Prosesi sarapan udah selesai, saatnya kami menyiapkan kembali perbekalan untuk dibawa ke titik lebih tinggi. Menggulung tenda, mengemas equipment pendakian, dan masukkan sisa logistik ke dalam carrier. Tak lupa juga, untuk mempersiapkan bekal turun, pimpinan meminta gue untuk menimbun sejumlah air di tempat yang hanya gue dan Tuhan yang tau. Gw ambil kurang lebih 2 liter air dalam ukuran satu dirigen sedang terus ditimbun di bawah batang pohon besar yang tertutup semak - semak. Sebagai penanda, gw ikatkan sehelai kain perca sebuah batang pohon tepat di atasnya.

 08.20 : Kami sudah siap berangkat. Tak ketinggalan bang Erwin Harahap sebagai rekan paling senior diantara kita memimpin doa, agar lanjutan perjalanan kami menggapai "Sejati" diberikan kemudahan. Target adalah Camp 9, jika kemaleman ya di Camp 7 atau 6. Dengan teriakkan "MERAUUUUNNNNGG!! SEEEEJAAAATIIIII!", menandakan kelanjutan perjalanan kami.

 Setelah Camp 3, kontur jalan praktis terun melulu, dengan medan kanan kiri langsung jurang, tapi dipenuhi ilalang jadi gak begitu keliatan jurangnya. Vegetasi yang mendominasi masih tumbuhan berduri, serta akar - akar liar. Kurang lebih berjalan 30 menit, barulah kami dihadapkan pada track yang mulai menanjak. Sesekali terdengar teriakan "Gigi satuuuu!" dari pimpinan yang jalan duluan, pertanda bahwa bentar lagi kita bakal ngelewatin track yang menanjak.

 10.00 : Kurang lebih hampir 2 jam, kami tiba di camp 4.  Camp 4 ditandai dengan tanah lapang yang mampu menampung sekitar 5 - 7 tenda. Kami memutuskan untuk istirahat sebentar, kurang lebih 15 menit setelah itu lanjut lagi perjalanannya.

 10.15 : Kami meninggalkan camp 4. Konturnya masih sama mengikuti satu punggungan dengan medan kanan kiri jurang yang tidak kelihatan dasarnya karena ditutupi vegetasi. Tracknya lebih kasus dari yang sebelumnya ternyata, lebih miring dan sesekali kita harus break, mulai dari minum, ngemil, dan makan buah. Vegetasi juga masih sama didominasi tumbuhan berduri dan akar - akar.

 11.40 : Kira - kira 1 jam lebih kami mengikuti jalan setapak sampai ke camp 5. Camp 5 ini ditandai dengan tanah lapang, namun jika dibandingkan dengan Camp 4, ini jauh lebih sempit. Kurang lebih tenda yang bisa masuk di camp ini tuh 2 - 3 tenda saja. Ketemu Camp 5,  kami langsung geletakkan Carrier, karena emang capek buangeeeet. Mana laper lagi. Tapi kita gak bongkar nesting disini, karena males banget wkwk. Cukup makan snack2 ringan, roti, kurma, buah, biskuit, dan keripik2.

 12.00 : Kami melanjutkan perjalanan ke camp 6. Disini kami sempet kesusul dengan 2 orang lokal yang diketahui mereka bawa air untuk didrop di Camp 6. Ternyata air tersebut diperuntukkan untuk rombongan sekitar belasan orang dibawah kita. Sempet nanya, total air yang dibawa itu 20 liter dengan ongkos bawa dari bawah Rp. 800.000. Hmm menarik!

 Gak lama juga setelah disalip 2 porter air tersebut, kami juga berpapasan dengan ibu - ibu senior yang sempet bareng dari camp 1 ke camp 2. Ibu - ibu ini ternyata camp di camp 6, terus langsung summit pagi ini hanya sampe puncak Bendera.

 Setelah itu kami lanjut lagi jalannya. Kali ini kami ngerasa kayanya camp 5 ke camp 6 jauh buanget. 2 jam jalan dari Camp 5 gak ketemu - ketemu. Sempet ketemu tanah lapang 2 - 3 kali yang kita kira itu camp 6. Ternyata pimpinan bilang, camp 6 masih di depan, yang kita lewati itu camp banyangannya. Matiks!! Mana capek banget lagi bebannya gak ngurang. Terlihat udah wajah - wajah penuh keletihan pada temen - temen gw, gw juga sih. Tapi karena kita yakin kita bisa, jadi ya nikmatin aja prosesnya, sembari kalo capek ya istirahat atur napas.

 14.00 : Sekitar jam 2 siang, kami baru ketemu Camp 6. Gilaaaaak lega banget ketemu tanah lapang yang muat kurang lebih 7 tenda ini. Langsung seperti biasa Carrier digeletakkin dan badan langsung rebahan. Gak lupa juga minum untuk mengganti ion yang hilang. Perasaan laper juga tak tertahankan, dan gw langsung makan cemilan yang paling gampang dijangkau dari sling bag.

 Disini kita nemuin timbunan air buanyak banget yang didrop sama dua porter air tadi. Dari sini kita bisa simpulkan, rombongan belakang pasti bakal camp di Camp 6. Itu artinya, kita gak bisa buka tenda di sini, gak enak ntar sempit2an sama belakang. Akhirnya diputuskanlah maju satu camp lagi ke camp 7. Dan karena sekarang udah jam 2 siang, kemungkinan bakal camp di camp 7, karena kalo dipaksain sampe camp 9 bisa nambah waktu 4 - 5 jam lagi. Kena gelap.

 14.30 : Setelah lumayan lama istirahat, dan sempet tidur bentar juga disini, kita melanjutkan pendakian dengan tujuan camp 7. Tracknya makin kasus, nanjak sadis, tumbuhan berduri dan akar makin menjadi, udah gitu jalurnya sempit. Matiks! Hampir bisa dipastikan, jarak antar satu medan datar itu juah buanget. Jadi ya gak bisa ngebreak di jalan, mau gak mau jalan terus.

 Menuju camp 7, kami ngelewatin kurang lebih 2 camp bayangan. Di camp bayangan pertama, tenaga kan udah sisa ampasnya doank nih, yaudah lah kita ngebreak sampe ketdiruan sebentar. Lanjut lagi ketemu camp bayangan selanjutnya, kita ngebreak lagi. Kebetulan pimpinan dan 3 orang dibelakangnya jaraknya lumayan jauh dari 7 orang dibelakangnya, Saat kita ngebreak di camp bayangan 2, masuklah frequensi HT yang menyatakan bahwa pimpinan dan 3 rekannya udah nyampe di Camp 7. Langsung ditanya, "berapa lama dari camp bayangan 2", "ya sekitar 15 - 20 menit," katanya.

 Langsung sontak kita menyudahi istirahat ini, dan melanjutkan perjalanan. Semangat udah kaya pejuang 45. 15 menit jalan, belum ketemu, 20 menit juga belum ketemu, 25, 30 menit juga belum ketemu. Ealah... jauh banget, yak. Dan, kira2 lebih dari 30 menit baru nyampe di Camp 7. Waktu menunjukkan pukul 17.00.

 Dengan inisiatif tinggi, kami langsung ngelepas carrier, bongkar tenda, dan keluarin logistik dan air, berharap logistik cepet abis begitu juga airnya berkurang.

 Camp 7 ini ditandai dengan tanah lapang dengan vegetasi agak terbuka, dimana mampu nampung hingga 7 tenda. Dari sini kalian juga bisa ngeliat Dataran Tinggi Yang dan Atap Tertinggi Jawa, Mahameru. Beruntungnya, langit kala itu cerah banget meeeennn... dari Camp 7 kita bisa ngeliat dua bentangan alam maha dahsyat itu tanpa ketutupan kabut. Clear banget. Apalagi ditambah cahaya mentari yang pelan - pelan terbenam, menjadikan gradasi warna yang menjadi latar dua bentangan ini membuat pemandangannya lebih magis. Gokiiiiiiilllll, ada perpaduan jingga, merah muda, ungu, sama biruuuuu!

 Kita yang kecapean langsung terbayarkan dengan pemandangan sakti kaya giniiii! Apalagi sambil nyeruput indomie, minum anget - anget, dan cerita - cerita. Tambah mantep banget meeeennn momentnya.

 Blom kelar coy. Lewat maghrib, sekitar jam 18.30,  itu lagi momennya bulan muncul cantik bangeeeeeet. Berasa pengen modusin jadinya. Doi lagi menampakkan fase klimaks purnamanya. Alhasil, semesta jadi terang benderang. Subhanalloh!  Ngeliat ke arah Dataran Tinggi Yang dan Pegunungan Bromo Tengger Semeru, tambah kereeeeeeen! Malem - malem masih bisa keliatan,

 Trus juga ketika loe berdiri keluar tenda, itu lo punya bayangaaaaan. Berasa kaya lo lagi disorot lampu panggung. Udah kaya aktor kelas wahid meennnn.

 Belum lagi bintangnya juga betaburan. Kerlap kerlip udah kaya berlian ajah. Gak cuma yang diatas, yang dibawah pun jugaaaaa. Itu lampu - lampu kota udah kaya untaian kalung emas, berkilau banget. Puas banget malem itu. Tapi sayang, karena gw lelah, jadi tidur lebih cepat.

 3 Juni 2015

 02.00 : Pimpinan dan rekan - rekan lain mulai membangunkan kita dari lelapnya tidur. Agar bersiap - siap untuk summit attack. Terlihat di luar tenda, bang Bond, Inyok, dan bang Sofyan tengah mempersiapkan bekal sarapan. Menu utama nasigoreng, ayam, telur, sambel lombok, beuhh!

 03.30 : Kami sudah kelar sarapan2, dan packing alat - alat pemanjatan. As usual, sebelum memulai perjalanan, bang Erwin memandu doa. Dan diakhiri oleh pekikan "MEEERAAAUUUNG! SEEEJAAATIIIII!"

 Kami meninggalkan camp 7, dengan membawa tas kecil / daypack, berisikan alat - alat pendakian dan perbekalan untuk sarapan. Kotur yang dilalui vegetasi jarang, tapi dengan kemiringan yang lumayan. Perjalanan santai memerlukan waktu seenggaknya 2 jam untuk sampai ke camp 8. Sesampainya di camp 8, kami yang saat itu kepisah dua regu, memutuskan break untuk sholat subuh, minum, dan menghela napas, sembari menunggu sampai semuanya berkumpul.

 06.30 : semua sudah berkumpul di camp 8, kami melanjutkan perjalanan ke camp 9. Estimasi waktu tempuh kurang lebih satu jam.

 07.30 : Camp 9. Kami beristirahat sejenak. Disitu kami menemukan ada dua tenda yang berdiri, kemungkinan berjumlah 5 - 6 orang. Dan mengetahui tenda itu kosong, kami berkesimpulan penghuninya sudah summit duluan. Itu berarti di hari yang bersamaan dengan summit attack kita, ada 3 grup termasuk kita.

 08.00 : kami melanjutkan perjalanan camp 9 - puncak Bendera. Jarak tempuh pendek, cuma sekitar 15 - 20 menit. Puncak Bendera ditandai dengan sebuah pundukan dengan tiang bendera tertancap diatasnya. Kami pun langsung buka logistik untuk mengisi perut dan menambah energi, serta mempersiapkan peralatan panjat tebing, mulai dari mengenakan harness, membuat runner, memakai helm, mengeluarkan kermantel, dan mempersiapkan carabiner. Gak ketinggalan juga briefing jalur oleh Pimpinan dan Bang Erwin.

 Okey jadi sekilas tentang medan yang bakal kita lewati. Dari puncak Bendera, nanti akan ada jalan menurun menyusuri jalan berupa jembatan tipis, namanya Shiratal Mustaqim 1. Setelah lewat Shiratal Mustaqim 1, menuju puncak 17, ada extreme point 1 yang mengharuskan kita kudu melakukan artificial climbing.

 Setelah itu menuju ke puncak 17 (extreme point 2) ada dua cara yang bisa dilalui, pertama artifical climbing lewatin puncak 17, atau melakukan traversing lewat samping. Tim sepakat ambil cara traversing, mengingat kalau lewat puncak 17 waktunya bisa lebih lama.

 Selepas puncak 17, bakal ketemu jembatan tipis lagi, Shiratal Mustaqim 2. Setelah itu baru ketemu extreme point 3, dimana perlu rapelling untuk ngelewatinnya. Setelah itu baru tracknya asik, tinggal turun sedikit, dan nanjak track batu - batu ke puncak Tusuk Gigi, dan dilanjutkan ke Puncak Sejati.

 Oke formasinya itu adalah : Pimpinan (Kresna) paling depan, diikuti oleh Lukman - Bang Bond - Inyok - Bang Jurex - Saya - Petrus - Afif -   Zaenal -  Bang Sophian (pengangkut Cermantel sekaligus cleaner) - Bang Erwin (as belayer + sweeper).

 09.00 : Dengan ditandai pekikan "MERAUUUNG SEEEEJAAAATIIIII" , tim memulai petualangan sejati ini. Mula - mula menuruni Jembatan Shiratal Mustaqim. Pelan tapi pasti. Tenang dan jangan sembrono. Karena satu saja kesalahin, nyawa taruhannya.

 Posisi kontur yang kita ambil itu agak sedikit miring ke kanan, jadi badan kita mesti condong ke kiri untuk mengimbanginya. Sesekali juga harus jongkok untuk menjaga badan tetap seimbang.  Hingga akhirnya kurang lebih 20 meter semenjak pintu masuk jembatan Shiratal Mustaqim 1, ada sebuah jalan setapak putus, yang membuat kami mesti mengangkang pada sebuah batu di atasnya.

 Saya lihat teman - teman gw didepan lumayan kuwalahan ngelewatin tantangan ini. Ya iya lha, mungkin karena kita seharusnya bentangkan webbing disini. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, melewatinya tanpa webbing. Dan praktis, ketika giliran gw, beuhhh merinding sekujur badan ini. Gileee bayangin menn, kaki mesti napak disebuah pijakan yang bahkan diinjek satu sepatu pun gak muat. Cuma ujung kaki doank yang bisa nginjek pijakan itu. Dan gue bingung mennn harus memulai dari kaki apa. Cuma satu pikiran gw saat itu, "yaudah deh, kalopun emang gue harus kepeleset disini, yaudah gw ikhlas". Dan akhirnya gw mulai dengan kaki kanan duluan, terus badan gue, gw lempar kekiri sambil pegangan bebatuan diatas gw. Habis itu gw geser sedikit kaki kanan gw biar ngasi tempat buat kaki kiri gw masuk, dan cepat saja gw lempar kaki gw ke pijakan didepannya yang lumayan luas, alhamdulllah kaki kanan gue nyampe, tapi kaki kiri gw nyangkut, kaga bisa digerakkin. Sontak temen - temen yang ngeliat pada ketawa, terutama bang Bond, Inyok, sama Petrus.

 "Weeeiii elu ngapain? wkwkwk, udah kaya anjing lagi kencing aja, kakinya didusel - dusel ke batu," kata mereka.

 Padahal ini bukan dusel - dusel, ini gegara sepatu kiri gw kesangkut di celah batu.

 Alhamdulillah gw bisa ngelewatin, meskipun harus menanggung malu. Tapi, ketika menyisakan tiga orang dibelakang, Zaenal, Bang Herwin, dan Bang Sofyan, keadaan sama aja kaya gue. Si Zainal terutama, udah napakin kaki ke depan, ehh ditarik lagi mundur. Ragu2nya bikin kocak dah. "Wanjiiir gw takut meennn!!" Alhasil Kresna selaku pimpinan balik lagi ke titik tersebut dan memasang webbing di titik tersebut. Dan alhamdulillah sisa 3 orang lagi bisa ngelewatin.

 Sekarang kita berhadapan dengan extreme point 1, tepat beberapa meter menjelang puncak 17. Ariticial climbing dilakukan oleh pimpinan Kresna demi memasang kermantel pada acnhor yang udah tertambat diatas extreme point 1. Kondisi spot ini sangat mengerikan, dimana pada jalan setapak setelah Shiratal Mustaqim 1, ada jalan buntu yang langsung blank ke jurang. So jadi kondisiny di depan dan kanan dari jalan ini jurang, praktis cuma ngandelin tebing dan beberapa pijakan batu di kiri.

 Kita melewati itu, dimana satu persatu naik menggunakan kermantel yang dikaitkan di jumar, dan jumar terhubung di carabiner masing - masing. Lalu menapaki pijakan bebatuan sembari men-slack-an posisi jumar ke kermantel yang lebih tinggi. Kurang lebih tinggi tebingnya 10 - 15 meter. Dan begitu seterusnya sampai pendaki terakhir.

 Di depan udah puncak 17, dan kami memilih melipir (traversing), sesuai kesepakatan pas di awal. Yang ini kacau banget, seharusnya kami  memasang tali, entah itu webbing atau kermantel, tapi sebaliknya kami ngikutin pimpinan jalan tanpa pengaman. Hingga 8 orang dari kami berhasil melewati extreme point 2 ini. Gw pribadi ngelewatin track ini, ya dilewatin aja, gak usah dibawa takut. Karena gini, ketika gw ngeliat ke kanan, itu jurang dalem buangeeet, dan pastinya badan langsung merinding. Gw alihkan dengan hanya melihat jalan setapak dan dinding tebing disebelah kiri. Akhirnya ketakutan akan ketinggian pelan - pelan bisa dikontrol. Terus juga, ada satu point dimana pijakan cuma selebar sepatu. Gw awalnya ragu untuk ngelewatin titik ini. Begitu juga temen - temen yang lain. Cuman ada instruksi dari depan, biar seimbang condongkan badannya ke kiri, dan menapaklah seperti biasanya. Ehh bener mennn, kita bisa lewatin.

 8 orang berhasil melewati extreme point 2, sisa tiga lagi dibelakang. Bang Erwin yang tau kalo bakal ngelewatin extreme point 2 ini tanpa pengaman, memutuskan untuk stay, daripada tetep jalan dan resikonya kepeleset. Bang Kresna juga udah ngeyakinkan, "udah jalan aja bang, aman kok!" Tapi tetep, Bang Erwin memilih Stay, sembari nunggu rombongan belakang buka tali. Disini sempet terjadi intrik kecil antara leader dan belayer. Dan diperparah dengan sok idenya gw dan Lukman yang mengusulkan ke leader untuk jalan duluan dan nunggu di extreme point ke 3.

 Akhirnya Kresna menjemput Belayer, dan dua orang di belakang, Bang Sofyan dan Zaenal. Dan melakukan safety procedure seperti biasa, Kresna terhubung tali dengan belayer, dan belayer menambatkan dirinya di anchor. Setelah itu membentangkan webbing sepanjang jalur melipir tersebut. Dan akhirnya mereka ber3 bisa melewati, dan cleaner gak memugar webbing itu dikarenakan stock webbing yang belom kepake masih banyak, dan juga masih ada kermantel. Selain itu pertimbangannya biar pulangnya lebih cepet gak usah pasang webbing lagi.

 Setelah semua kumpul, Kresna dengan nada sedikit berang ngomong ke kita.

 "Sini semua ngumpul! gue mau ngomong!"

 Kemudian dia menatap gw, "Lo tau gak fungsi leader apaan? coba jelasin!"

 Dan gw pun sontak menjawab, "Leader ya yang paling depan, semua komando ada di dia"

 "Oke Leader paling depan, tapi kenapa disaat temen lo tiga masih dibelakang lo sama lukman mutusin mau jalan duluan. Lo ngereasa leader? lo ngerasa mampu mimpin tim ini?" timpal Kresna.

 "Buat yang laen, sorry to say, terutama buat abang - abang yang lebih tua dari gw, bang Erwin, Bang Sofyan , Bang Bond. Gw mau negesin sekali lagi, siapa leader disini?"

 Salah satu dari kita nyeletuk, "elo na, elo leadernya!"

 "Oke gue leader. Kalian masih percaya gw leader. Buat Lukman! gue gak suka banget ya sama inisiatif lo yang sok Ide. Sok - sok jalan duluan sementara tiga dari kita masih ketinggalan jauh di puncak tujuh belas. Kalo lo mau jalan duluan, dan lo ngerasa leader, silakan! Jangan pake peralatan tim ini! Dan gw gak mau tanggung jawab keselamatan lo ber 2. Silakan jalan duluan, buka jalur duluan!"

 "Sorry gw ngomong rada tinggi. Gue bener - bener serius. Ini bukan pendakian main - main. Taruhannya nyawa. Dan gw gak mau kecelakaan nimpa tim ini karena kita gak kompak. Kita jalan bareng - bareng dari Pak Soeto, gue pengen nyampe puncak pun bareng - bareng. Kalo lo ngerasa bukan bagian dari tim ini, gw persilakan banget jalan duluan."

 Sejenak suasana menjadi mencekam. Mana ditengah ketinggian, kabut, angin kencang, dan suara gemuruh gunung Raung. Tapi emang bener juga sih, pendakian ini bukan pendakian buat nunjukin siapa yang berhasil nyampe duluan, melainkan keselamatan bersama, dari awal nanjak, sampe puncak, dan berakhir di rumah.

 Ketika suasana udah kembali normal, Kresna kembali ngambil inisiatif. Beberapa meter sebelum Jembatan Shiratal Mustaqim 2 tepatnya.

 "Temen - temen, kita sekarang dihadapkan pada extreme point selanjutnya. Di depan kabut tebel, angin juga kenceng, dan ditambah jalan tipis. Terlalu beresiko kalo kita jalan terlalu sembrono. Itu dia kenapa gue ngomong gini sama Dio sama Lukman. Seenggaknya ada tiga cara yang bisa kita ambil pertama kita jalan dengan teknik moving together, dimana satu sama lain tertambat dengan kermantel. Tapi resikonya, amiit - amiiit kalo ada satu orang yang jatoh, maka besar kemungkinan semuanya jatoh. Yang kedua kita jalan dengan menambatkan webbing body to body dua orang. Tapi elo semua bisa nggak reflek, kalo temen lo / lo yang jatuh, maka pasangan lo harus lompat ke arah sebaliknya. Itu kalo bisa reflek cepet, kalo nggak dua - duanya bisa jatoh. Atau opsi ke tiga, kita jalan sama sekali tanpa pengaman. Tapi dengan syarat ketika angin kenceng / kabut tebel, semua tiarap, jangan ada yang berdiri. Oke gw kembalikan sama kalian, pilih yang mana?"

 Kita semua sepakat ambil cara ketiga, jalan gak pake apa - apaan. Fix, jembatan Shiratal Mustaqim kali ini lebih mengerikan dibanding yang sebelumnya. Tipis banget, kanan kiri langsung jurang. Sumpah kepala gw ngilu banget jalan di atas itu. Tapi gw pastikan setiap langkah yang gw ambil itu pasti, sembari tetep berdzikir. Gw ikutin safety procedurenya bang Kresna, begitu kabut / angin kenceng / suara gemuruh Raung keluar, gw tiarap kalo nggak duduk. Dan setelah semua mereda, baru jalan. Gw jalannya pun gak sambil berdiri, tapi sambil duduk, dan sekali - sekali juga merayap, biar seimbang karena ada yang bisa dipegang. Dan alhamdulillah akhirnya sampe juga kita di penghujung jembatan Shiratal Mustaqim 2.

 Tapi tantangan blom berakhir, kita harus ngelewatin satu extreme point lagi. Yaitu tebing menurun yang mengharuskan kita kudu rapelling. Seperti pembagian peran sebelumnya, kermantel 50 meter yang dibawa bang Sofyan diulurkan. Bang Erwin berperan sebagai penambat / belayernya. Dan satu persatu kita menuruni tebing ini, dengan mengandalkan figure of eight. Dimulai dari Kresna, hingga akhirnya giliran gue. Nah pas giliran gw, gw ngalamin kecelakaan yang amat fatal. Gw salah ngelempar badan gw secara vertikal tegak lurus, melainkan agak miring ke kanan. Sehingga gw ngehajar batu di sisi kanan gue. *Braaaaakkk, gw nabrak dinding batu. Badan kanan gw sakit semua, walaupun pada akhirnya sampe bawah. Dan setelah gw cek barang - barang di kantong kanan gw, headlamp, dan HP, totally rusak. Headlamp gw pecah, baterainya berarakan, dan HP gw layarnya pecah. What theeeee ***** !!

 Oke semua udah turun melewati extreme point 3. Kita ninggalin Kermantel 50 meter disitu, biar pulangnya gampang. Kemudian kita lanjut menuju ke puncak Tusuk Gigi. Medan yang mesti kita lewatin udah tinggal dikit lagi, yaitu sedikit jalan menurun, terus habis itu nanjak terus sampe puncak tusuk Gigi. Keliatannya sih kaya mudah dilewatin, tapi sebenernya, beuhh tetep masih mengerikan. Gue kira habis extreme point 3 udah kelar ngeri - ngeriannya. Tapi masih.

 Jadi tuh awalnya kita jalan menuruni track berbatu, kemudian masuk kaya semacam celah gitu, dan turun dengan webbing (karena emang tinggi banget). Habis itu menapaki jalan berbatu yang kata gue ini 'miring banget', dan hampir - hampir vertikal. Awalnya sih gak terlalu miring, malah gw kira ini kaya Slamet yang agak berpasir, atau Ciremai. Tapi beda buangeeet. Kurang lebih 50 meter menaiki bebatuan tersebut, gw terjebak dengan sebuah batu vertikal yang sulit diraih. Bahkan gw sempet bingung, ini kalo gw naik bakal susah banget, dan kalo gw putuskan untuk turun juga jauh lebih susah. Gak mungkin banget gw diem disini. Akhirnya gw putuskan untuk jalan terus, dengan free scrambling. Ngerayap - ngerayap dibebatuan vertikal tanpa alat pengaman apapun. Dan salahnya gw ambil rute agak kekanan yang ternyata medannya lebih tanpa ampun ketimbang di kiri. Tapi ini shortcut buat langsung nyampe ke Puncak Sejati.

 Dan benar saja, tepat jam 2 siang, gw dan lainnya sampe di Puncak Sejati. Langsung disambut dengan pelukan teman - teman. Dan kita saling berpeluk satu sama lain sembari ngasih ucapan 'congratulation'. Dan momen kengerian, berubah drastis menjadi momen yang sumpah, haru buangeeeett!! Kita semua pada meneteskan air mata, iya air mata kebanggaan. Gak nyangka bisa mencapai 'Puncak Sejati', yang selama ini kita lihat di foto, catper, video youtube, sebuah medan yang paling menantang se-Jawa. Sujud Syukur kepada Alloh SWT atas segala berkah dan karunianya kita bisa berdiri di sana.

 *Ada yang menarik. Gw sempet mengungkapkan sederet kata cinta dari Puncak Sejati kepada seseorang. Tapi yang terjadi adalah penolakan T_T. Ternyata puncak sejati gak jaminan guys, begitu juga predikat pendaki gunung. Padahal pengorbanan bisa sampe sini, dan berakhir hidup - hidup sampe rumah itu susah banget.

 End

Selasa, 09 Juni 2015

Pada Sebuah Atap Malam

(Tribute to pengalaman pendakian gunung Raung, saat ngecamp di Camp 7 / malam kedua pendakian)


Angin semilir berhembus menyatukan harmonika canda. Pada sebuah lembah, sedang aku terangkul oleh kehangatan menuju malam. Akankah lelah, luntur oleh segala hangatnya kecantikan malam? Sejak tidurku kadang tak nyenyak oleh dingin.


Barat yang menjingga layaknya pastikan antara lembah, penantian dan harapan. “Sedikit lagi,” kataku. Jangan tanya seberapa lelah aku menuju malam, saksikanlah setelahnya. Yang tidak ingin kulepaskan, antara pertemanan, petualangan, dan romansa.


Detik menuju menit, jingga menuju gelap. Tapi tetap benderang karena ia. Harapan kemarin yang sekarang aku lihatnya ia cantik diatas sana. Bulan yang sama seperti lalu, saat - saat di Ranu Kumbolo maupun Surya Kencana, tapi rasa yang beda. Entah kenapa ia lebih cantik. Ohh mungkin saja karena pendarannya, aku dapat menyaksikan gugusan Dataran Tinggi Yang di Barat, hingga gagahnya atap tertinggi Jawa yang sesekali mengepulkan asap abu.


Aku dan sepuluh lainnya terpukau dengan semesta hari ini. Menghilangkan setiap keputusaasaan dengan decak kagum yang tersaji. Apalagi ia, yang paling terang malam ini, seperti hendak menerangi terangnya masa depanku, setelah ini.


Bulan malam seolah membisikkan, “nikmati hari - harimu, kau akan benderang setelah ini.” Itu sepintas saja, tak lebih. Kenyataan tidak bisa bersembunyi. Seperti pucuk - pucuk daun yang menjadi dingin. Aku tetap akan melawan terjalnya pijakan, mungkin hinggah harus merintih. Tertatih hingga bosan menahan letih.


Tapi langit tak seperti kemarin. Binarnya getarkan gelora di dada. Mungkin juga karena gemintang yang memberikan nuansa manis. Cassiopeia menari, Sirius tetap menjadi pemburu, serta Orion yang menatapkan untuk menjadi lebih berani. Tapi tetap ia yang paling ranum. Seperti akan sangat malu jika ¾ jalanku terhenti karena ketakutan.


Kembali bulan, lengkap dengan purnamanya, kali ini muncul di mimpi. Lebih terasa jelas setiap dimensinya. Seperti mati yang sebenarnya kebanggaan. Seperti jatuh yang sebenarnya kehangatan. Atau diterpa batu yang sebenarnya keindahan. Kirananya bentangkan jalan berbunga antara Bendera - Sejati. Seperti sekilas mudah. Delusi yang rupayan, semoga saja senyuman.






 

Minggu, 07 Juni 2015

Sebuah Keluh Kesah Pendakian Puncak Sejati (1-6 Juni 2015)

Part 1 : Hari Pernikahan




lo tau kan kalo gunung Raung via Kalibaru, dengan puncaknya yang bernama “Puncak Sejati” itu adalah gunung tersulit di Pulau Jawa. Sulitnya, karena lo harus nenteng air banyak banget dari Basecamp karena di jalur pendakian itu gak ngelewatin mata air. Udah gitu lo mesti berhadapan dengan hutan yang masih rapet, dan vegetasi tumbuhan yang berduri. Belum selesai, tracknya juga panjang, dan terjal, kemudian setelah sampai di puncak Bendera (sebelum sampe ke puncak sejati), lo mesti ngelakuin panjat tebing yang sangat mengerikan.

Jadi sebelum gw menginjakkan kaki di Puncak Sejati, gw ngelewatin berbagai macem skenario Alloh SWT yang gw sendiri kalo nginget - nginget itu, ngerasa “gileee keren buanget, can’t believe it deh”.

Awalnya gw pikir gw bakal batal ke Raung. Jadi awal mula kisahnya gini, gw udah beli tiket kereta api ke Jogja + sambung ke Banyuwangi, itu pada tanggal 30 Mei 2015. Tapi disaat yang bersamaan, gw mesti ngehadirin nikahan salah satu temen terbaik gw tanggal 31 Mei 2015, jam 16.00 - 21.00 di Anjungan Yogyakarta, Taman Mini Indonesia Indah. Dan gw udah bertekad gw harus dapet dua - duanya, persahabatannya dapet, petualangannya dapet. Terlebih gw juga berharap dapet romancenya.

Oke akhirnya gw batalkan naik kereta api, gw ubah naik pesawat, ambil yang last flight which is penerbangan Jakarta - Surabaya, naik AirAsia jam 22.20 malam, hari minggu tgl 31 Mei. Pertimbangan gw, gw masih sempet dateng nikahan temen gue ini, maksimal sampe jam 8 malem, kemudian bablas ke Soetta dengan estimasi waktu tempuh satu jam, jadi gw sampe di Soetta jam 9 malem. Masih banyak waktu.

Oke gw dateng ke Taman Mini, jam 4 sore, lengkap dengan peralatan pendakian serta pemanjatan yang gw packing ke dalam dua tas, yang satu ukuran 80 liter, yang satu ukuran 20 liter. Gw titipkan tas itu di sebuah mesjid deket anjungan Jogja, namanya Mesjid Pangeran Diponegoro kalo gak salah, sembari ngelakuin sholat Ashar.

Oke gw dateng beberapa saat setelah akad selesai. Skip, skip.. Jam 8 malem, gw ijin pamit sama temen - temen gw yang juga dateng ke kondangan itu. Ada Jamal, Kawe, Rizky, Nia, Jere, dll. Gw langsung cabut ke mesjid buat ambil barang gue. Dan betapa Shock nya gw, tau barang gue gak ada di tempat penitipan. Shock meeeennn, shock banget, hampir mau nangis sumpah. Itu isinya sebagian besar peralatan minjem, kaya Harness, Lanyard Climbing, FIgure Of Eight, Jumar, Carabiner, dll. Bukan itu sih yang terpenting, yang bikin gw gelisah banget, gw terancam batal gara - gara itu.

Oke gw inisiatif cari tau penjaga mesjidnya, gw telpon Jamal dkk, buat ngabarin kalo gw baru kena masalah disini. Untungnya mereka baik, bantu gue, nemenin gw nyari tau sampe ketemu.

Gw ketemu dengan salah satu bapak - bapak tua (sepertinya satpam Mesjid), gw tanya tentang tas gw kemana, doi jawab, kalo kuncinya udah dibawa pulang, dan tas gw aman ditaro di ruang sekretariat, dan sebaiknya diambil besok pagi. Bukan masalah itu sumpah, gw harus ngejar pesawat. Akhirnya gw minta tolong bapak - bapak itu untuk diantarkan ke rumah penjaga mesjid yang gak jauh dari Taman Mini buat minta kunci ruang sekretariatnya.
Alhamdulillah masih sempet dapet itu kunci. Tapi jam udah nunjukin pukul 9 malam. Gw buru - buru ambil tas itu dan minta tolong Jamal dianterin ke Kampung Rambutan buat cari Taxi. Jam 21.15 gw dari Kampung Rambutan, which is gw cuma punya waktu efektif 50 menit, sebelum gate boardingnya ditutup. Gue bilang “pak nyampe Soetta sebelum jam 10, gw lebihin ongkosnya 100 ribu, bapak ngebut ya, berani gak?”. Gw sempet nantang bapak itu untuk ngebut. Dan alhamdulillah bisa turun di depan terminal 3 jam 22.00, walaupun sempet nyasar ke Terminal 1 dan 2, (gw pikir penerbangan Air Asia di terminal itu), trus muter balik dah. Dan alhamdulillah, gw bisa boarding, walaupun beberapa saat sebelumnya gw ngerasa kaya orang bener, lari - larian bawa tas segede gaban di bandara, ditambah panik level klimaks, dan lain sebagainya. Dan betapa bersyukurnya gw menyadari bahwa diri gue udah di pesawat. Itu berarti bahwa gw sukses ngedapetin friendshipnya, tinggal adventurenya nanti. Gw janji harus pulang dari raung bawa jasad gue utuh, lengkap dengan nyawanya.


Part 2 : Kalibaru

Gue nyampe Kalibaru jam 8 pagi hari berikutnya, setelah naik pesawat sebelumnya dan dilanjut naik bus jurusan Jember, lanjut naik bus jurusan Kalibaru. Gw langsung menuju rumah Pak Soeto naik ojek, dan disana temen - temen udah pada nungguin gue. Betapa senengnya gue bisa ketemu mereka, dan mempersiapkan cerita keren mendaki ke puncak sejati. Total 11 orang di tim kita.

Oke skip, kita berangkat jam 10, naik ojek menuju rumah pak Soenarya, trus jalan kaki menuju pos 3. Track belum begitu berat, tapi vegetasi udah lumayan berasa rapetnya. Duri - duri dari akar pohon, ranting, dan daunnya silih berganti nyabet badan gue, yang untungnya udah full equip (celana panjang + gaiter, ditambah lengan panjang + sarung tangan). Kita camp di camp 3. Yang gw rasa sulit dari awal track ini adalah bahwa gue dan rekan - rekan lain mesti bawa air minimal 6 liter, dan gw ngangkut 5 botol air akua 1.5 liter. Berat banget, ditambah beban logistik untuk 4 hari, dan peralatan panjat tebing yang isinya besi - besi.

Skip lanjut ke malam selanjutnya, kita jalan dari camp 3 target camp 7. Nyisain air di camp 3 buat ditimbun, kira2 4 liter / 1 dirigen. Tetep masih berat, karena logistik cuma ngurang berapa liter aja. Ditambah jalanannya jadi lebih menantang, nanjak sadis, akar - akar menjulur, pohon - pohon berduri juga masih nyabet - nyabet badan. Jam 5 sore kita nyampe camp 7. Ada satu momen penting saat malam itu, saat kita camp di camp 3 dan di camp 7. Langit cerah, bintang banyak, dan bulannya cantik banget. Purnama dia, merah ranum, beuh!!

Lanjut hari berikutnya, dini hari jam 2 bangun, siap - siap summit attack puncak sejati. Gear, makanan, air kita siapin semua di daypack. Jam 3 teng jalan. Track masih sadis, nanjak terus, akar - akar, dan pohon berduri. Sampe camp 9 barulah kita nemuin batas vegetasinya. Kira - kira jam 7 pagi.

Jam 8 pagi tepatnya, kita sampe di puncak Bendera, sarapan ngemil roti, buah, teh, kopi, snack, dan lain sebagainya, yang penting badan bertenagaga. Kita juga persiapkan alat - alat pemanjatan buat langsung dikenakan, Harness, webbing + carabiner (buat runner), figure of eight (buat turun), lanyard buat runner juga.

Sekitar jam 9, kita udah siap buat panjat tebing. Tantangan pertama yang kita lewatin, jembatan tipis yang katanya “Shiratal Mustaqim”. Kita jalan diatas punggungan itu, gak pake pengaman atau bentangin webbing. Cukup jalan aja, yang penting langkah pasti. Kanan kiri itu jurang dalem bangeeeeet, salah injek, kepeleset pasti, entah mati entah pingsan, yang jelas gak pengen gue jatoh. Ada satu spot di jembatan ini yang bikin jantung gw berdebar kenceng, yaitu saat ngelewatin sebuah batu, dimana kaki kanan gw mesti dilempar duluan, dengan pijakan yang kecil banget, trus langsung aja gitu batu itu ngelos ke bawah. Sempet kaki gw tersangkut disini, daaaaaan rasanya itu, merinding bangeeet. Salahnya gw lewatin titik itu gak pake webbing, yang seharusnya itu pake webbing. Temen - temen di belakang gw pun pake webbing.

Jembatan SHiratal Mustaqim lewat, sekarang kita berhadapan dengan ekstrim point 1. Dimana leader ngelakuin artificial climbing (istilahnya buka jalur, pasang alat pengaman lah). Dan setelah terdengar kata “belay on!”, kita langsung panjat tebing itu satu satu. Masya Allah!!! vertical banget, dan belakang gue udah langsung jurang. Tapi kita percaya sama alat itu, dan kita berhasil lewatin extreme point 1.

Setelah itu, masuk ke Puncak 17, kita ketemu extreme point 2. Kita dihadapkan dua pilihan, artificial climbing + rapelling (which is ngelewatin puncaknya), atau traversing (melipir lewat samping). Kita putuskan melipir karena kita rasa ini paling cepet. Dan leader jalan duluan melipir, daaaaaan parahnya tanpa alat pengaman. 8 orang pertama dari kita jalan tanpa pengaman. Termasuk gue. Ada satu extreme point banget yang lo mesti condongin badan lo ke kiri, trus pijakannya cuma sebatas muat satu sepatu, selebihnya jurang blank! Hingga 3 orang belakang, termasuk belayernya, gak mau ngelewatin itu tanpa pengaman. Mereka bersi keras untuk pake pengaman. Disini sempet terjadi intrik antara leader dengan belayer. Belayer kita sempeten pengen mutusin ikut rombongan belakang sampe ada yang bikin jalur pengamannya. Akhirnya kita sepakat satu orang jemput 3 orang itu, dengan bentangin webbing, jalan pake runner.

Kelar lewatin puncak 17, kita diahadapkan pada extreme point selanjutnya, jembatan Shiratal Mustakim, kali ini lebih tipis dari yang sebelumnya. Leader sempet ngasi pilihan gini, kita jalan secara moving together dengan konsekuensi kali ada yang jatuh yang lain harus bisa nahan bebannya. Itu kalo yang jatuh satu, kalo lebih dari 1? bisa - bisa jatuh semua. Gak logis. Ganti ke opsi ke dua, pake teknik body - to - body. Satu orang ngehubungin webbingnya dengan satu orang yang lain, dengan konsekuensi kalo ada satu orang yang jatuh, pasangannya kudu reflek loncat ke arah yang berlawanan. Misalnya si A jatuh ke kanan, dan si B harus reflect loncat ke kiri. Tapi kudu cepet, kalo nggak jatoh dua - duanya. Kita gak mau, karena masih beresiko. Akhirnya diputuskan jalan tanpa pengaman.

Oh iya di titik ini, anginnya kenceng buanget. Dan kabutnya itu dateng ganti - gantian. Leader bilang, kita jalan aja kaya biasa, pastikan langkah yang kita ambil itu lo yakin. Dan kalo ada kabut sama angin, kita mesti menunduk. Kalaupun “amit - amit” ada yang jatuh seenggaknya anggota lain masih bisa evakuasi. Akhirnya kita sepakat. Dan beneran sumpaaaah, mengerikaaaaan!! jalannya tipis bener, gak pake pengaman. Alhasil gue ngelewatin itu dengan cara merangkak. Gw upayain tangan napak dulu baru dengkul gerak. Alhamdulillah lewat.

Trus habis itu kita ketemu extreme point yang selanjutnya, yaitu kudu rapelling (turun dengan menggunakan tali) karena lumayan turunannya ada kali 10 meter. Tali carmantle dibentangin dan kita pun turun dengan menggunakan figure of eight. Disini gw ngalamin kecelakaan. Gw ngebentur batu di samping kanan gw, tepat badan kanan gue yang kena. Yang parah gw nyimpen headlamp dan hp di saku kanan, dan imbasnya, hp dan headlamp gw pecah.

Sebenernya kalo udah ngelewatin titik ini, udah tinggal jalan sebentar tanpa ada extreme point lagi buat sampe ke puncak tusuk gigi + puncak Sejati. Cuma jalan scrambling aja di batu - batuan. Tanpa pengaman juga bisa. Tapi dibandingin scrambling di gunung - gunung kaya Ciremai, Slamet, Semeru, ini jauh lebih susah. Gw sempet salah ambil rute, ambil yang tegak banget, dimana jarak antara pijakan batu satu ke pijakan lainnya, kemiringannya hampir 90 derajat, dan jauh lagi. Kadang mesti traversing (jalan merayap nyamping) juga. Yang jelas gw sempet ngalamin keringet dingin di sini, hampir putus asa men. Lo bayangin, lo udah naik setinggi itu, trus dihadapan lo ada pijakan yang juga mesti lo lewatin, tapi tegak banget. Mau turun ngeri, naik juga ngeri. Gak mungkin juga diem di tempat kan? Salah satu pilihannya ya tetep naik walaupun ngeri.

Kita ambil rute memutar, gak lewatin puncak tusuk gigi. Langsung ke Puncak Sejati. dan Alhamdulillah, tepat jam 2 siang kita nyampe di puncak sejati. Perasaan gue kala itu, haru - seharu harunya. Nangis gue di atas sana. Gak nyangka bisa nyampe puncak Sejati. Gw inget momen - momen kala gw ngorbanin tiket kereta untuk dateng ke nikahan temen terbaik gw, hampir ketinggalan pesawat, dan momen - momen ngelewatin tantangan demi tantangan dari Puncak Bendera ke Puncak Sejati. Gw juga bayangin wajah ibu bapak gue yang udah ngasi semangat, temen - temen gw yang lain. Semuanya bikin gw haru meeeennn. Sujud sukur gw bisa nyampe di Puncak Sejati.

Satu momen lagi yang bikin kita merinding, itu gunung Raung ya, tiap 10 menit ngeluarin suara gemuruh dari dasar kawahnya. Pokoknya setiap kita denger suara itu, gak ada satupun yang berani tetep jalan, melainkan diam, sampe suaranya kelar. Serem banget men suaranya.

Oh iya di puncak sejati juga gw sempetin bikin sign buat calon istri gue kelak dengan susunan katanya kurang lebih kaya gini, “dear (nama calon), menikahlah denganku, dari Puncak Sejati 3344 MDPL”. Gw juga gak lupa ngucapin selamat ulang tahun buat kakak perempuan gue, selamat menikah buat sahabat gw, ucapan terima kasih buat nyokap bokap, dan ucapan terima kasih buat sahabat - sahabat sejati. Lantas selesai sampai di sini? belum. Gw kan udah janji, gw gak cuma dapetin puncak Sejati, tapi gw mesti bawa jasad dan nyawa gue ini pulang ke rumah. Itu artinya gw bakal ketemu sama halang rintang kaya tadi lagi. Ditambah ini udah sore, kemungkinan kita bakal kena malem di jalur mematikan ini.

Oke jam 3 kita turun dari Puncak Sejati. Sampe Puncak 17, alhamdulillah gak terlalu mengerikan. Mungkin karena udah mulai membiasa kali ya. Tapi yang mengerikan itu adalah, saat ngelewatin Extreme Point 1, dan jembatan Shiratal Mustaqim 1 dimana kita kena malem disitu. Dan kabutnya udah mulai ngeluarin rintik - rintik air ujan, walaupun belum deras. Di extreme point 1, gw ngerasa lumayan ngeri, karena malemnya itu, tapi masih ketolong dengan alat - alat. Nah pas di Shiratal Mustaqim 1, ampun deh, gw nyaris kecebur ke kiri. Gegara salah injek batu, dan mungkin juga karena gw udah gak ada penerangan karena headlamp gw rusak. Temen depan dan belakang gw pun nereakin gue agar lebih hati - hati dengan nada agak keras. Untungnya saat kepeleset itu gw langsung ngelempar badan gw ke kanan jadi masih dapet keseimbangan. Dan gw ngelewatin jalan ini dengan cara ganti - gantian jalannya sama yang depan gw. Kita sharing headlamp, 1 ber 3 men, sampe ke puncak Bendera. Dan begitu sampe di puncak Bendera, jam setengah 8 malem, kita semua sujud syukur, masih dikasi nyawa sampe detik itu.

Yang ada dipikiran gw saat itu cuma satu, yaitu tentang sisi romancenya. Gw tulus banget ngungkapin ajakan menikah dari puncak Sejati itu. Dan semisal doi menolak, wahh itu parah banget, seolah gw kudu ngelewatin tantangan yang lebih extreme lagi daripada Raung kali ya buat ngebuktiin keseriusan gw. Tapi ya gapapa juga sih semua orang berhak menentukan pilihannya, tanpa perlu paksaan. Dan semisal juga pada kenyataannya iya, menolak, ya gw berpositif thinking aja sih, mungkin cara ini belum ampuh, atau mungkin doi punya penilaian sendiri untuk calonnya. Dengan kata lain, gw bisa simpulkan pendakian ini cuma membuahkan hasil dari sisi friendship sama adventurenya aja. Tapi realitynya, kita tunggu nanti aja. Yang jelas gw bersyukur banget bisa sampe rumah saat ini, ketimbang mesti mati di Puncak Raung.

Kamis, 08 November 2012

Penantian Panjang

Selesai!!

Sorak - sorai, gegap - gempita, semua berkolaborasi didalam fikiranku. Batinku terasa bebas. Kini tak lagi terkekang. Enam bulan lamanya, sebuah moment yang tentu saja sangat sayang untuk dilupakan, tapi, tidak juga untuk dirasa lebih.

Enam bulan itu adalah masa yang sangat sepi. Sepi karena harus berpacu dengan deadline jika tak ingin masa depan menolakku mentah - menah. Sepi disini mungkin lain, walaupun sejatinya tak sepi karena aku tak sendirian berjibaku dengannya lantaran berteman dengan berbagai macam puisi dan lagu seperti; Cahaya Bulan, Sebatang Lisong, Lithium, New Devide, dan yang lainnya, tapi tetap tak bisa dipungkiri aku sepi lantaran intensitas bersama ia menjadi kurang. Ya, kurang sekali.

Kulihat bintang sangat bersahaja diluar sana. Kurasa angin silih berganti mendekapku. Semuanya begitu nyata, begitu damai, sedamai mungkin hariku esok. Hari penentuan, hari pelampiasan 4 tahun masa kuliahku dalam sebuah ruang berisikan tiga orang audiens. Kuikrarkan dalam batinku, dalam bawah sadarku, aku telah siap, aku telah menguasai, biarlah esok yang menjadi saksi.

Itu kadang membuatku risih. Serisih dengan sebuah bingkisan misterius yang kuletakkan dipojok kamar. Sebuah bingkisan yang dipaket dari Adelaide oleh si dia yang katanya sih agar ia selalu ada didekatku. Entah itu apa, bentuknya kotak, tapi tak akan kubuka jika memang mengganggu. Dan tentu saja dengan pesan yang bertubi - tubi datang ke ponselku, masih dari dia. Aku hanya menjawab dengan sebatas kata yang ringkas.. 'ya dan terima kasih'

Sekarang... kuserahkan pada hari esok

******

'Pak bu, aku lulus, sekarang aku telah menjadi sarjana' ceritaku pada pembicaraan singkat via telepon. Berlinang, airmataku kala itu. Tak lama berselang aku dengar sebuah suara yang lentik 'Bagaimana keadaanmu sayang?', dan tentu saja kubagi cerita ini kepadanya, betapa perjuanganku selama kurang lebih 30 - 45 menit dalam persidangan. Dia hanya mengungkapkan 'selamat ya'

Sungguh luar biasa

'Sayang, terimakasih untuk semua motivasi yang kamu berikan selama ini. Kelulusanku mungkin dambaanku sejak dulu. Kelulusanku mungkin obat penyejuk hati orang tuaku. Tapi kamu harus tahu, kamu juga punya andil sayang. Walaupun kadang aku sepi tanpamu, tapi yang lebih indah adalah aku dapat membaca pesanmu, mendengar suaramu, mengetahui kamu bahagia karena ku. Setelah ini kita akan bahagia bersama dalam bahtera'

Matahari Terbit di Mandalawangi

Ia hanya duduk terdiam,menunggu dalam penantian akan resapan belaian mentari. Sepuluh mungkin duapuluh menit lagi. Tungku api tak segarang semalam. Kini hanya menyisakan arang - arang kecil dan tarian mungil sang Api.

Itu adalah pemandangan yang kusaksikan dari balik tenda. Rupanya rekanku ini sudah lebih dulu bangun. Dalam hati bertaut riang lagi ketidakpuasan. Tidak puas karena tak bisa lebih dulu, dan riang karena pada kenyataannya ada teman yang juga menunggu fajar

"Dingin ya" sapa ku sambil menggosok - gosokkan kedua tangan

"Kau tau ini adalah pagi, ini pagi yang penuh kedamaian, sukacita, dan bahkan taste of friendship antara kita, rekan - rekan se-penakluk ketinggian" imbuhnya penuh dengan binar diwajah, Seperti memang sudah ia nantikan

"Masih gelap ini kawan, mengakapah kau rela melawan dinginnya alun - alun Mandalawangi?" tanyaku, yang telah berselimut pertanyaan akan pencarian esensi pagi

"pagi ini, di sebuah lembah ini, kita akan menyaksikan mahakarya sang pencipta yang menyongsong di ufuk timur, pernahkah kau bayangkan betapa indahnya panorama disini, di Mandalawangi. Kau bisa lihat disanalah kita akan menjadi saksi keindahan agung" sambil menunjuk sebuah bukit dimana tertancap prasasti penanda puncak tertinggi Pangrango"

kita berdua bergegas, menghiraukan kelima rekan kami yang masih terjaga lantaran tak elok jika harus menyudahi mimpi panjangnya yang dalam balutan lelah. Tak lama kita menapaki puncak tertinggi.

"Subhanallah indahnya.... " riuhku dalam hati, dan tak malu juga kuungkapkan padanya

Memang bukan tahayul apa yang diungkapkannya. Sesekali aku menerawang jauh, seolah pemikiranku terbang kesana kemari. Aku, dalam bayangan, dalam imajinasi, apa sebenarnya yang ada disana, bentang alam yang seberapa besar lagi. Masih ada Ciremai, Cikuray, Salak, Slamet, Mahameru, dan lain lagi. Aku hanyalah kecil dibanding sang Pencipta. Hanya itulah yang sanggup aku bayangkan, betapa mahadahsyatnya alam ini.

Senin, 05 November 2012

Syukur #FF2in1

"APA SIH KERJAMU HANYA BERMALAS - MALASAN SAJA?"
Bosan aku mendengar santapan khas rutin dipagi hari. Aku hanya menikmati selimutku. Itu saja. Perempuan tua, aku tahu kau mencemaskanku. Biarlah, aku sudah punya rencana dalam hari ini. Aku hanya... aku hanya... sebentar saja menghilangkan sepat dimata.

Entahlah. Seringkali aku juga bersimpati pada engkau bun. Engkau setiap hari subuh - subuh sudah merapikan dagangan, membawa beban yang tak logis untuk ukuran badanmu. Aku ingin bersedih, tapi ya... nanti sajalah.

"memangnya kau tidak punya impian sedikitpun apa?" tanya bunda, walau sebagian besar hanya menjadi lalu - lalang dikepala.

"Bunda selalu saja menanyakan hal ini. Bosan Bun aku sejatinya." Biarlah, ia tidak tahu mungkin. Jawabku.

"Bun... Banyak kawanku yang berselimut dipagi hari. Toh malamnya ia bertamasya, bahagia, kenapa dipermasalahkan sih?"

"Kau ini memang MALAS!!" bunda meninggikan intonasi.

"Kau tahu pagi itu anugerah, syukuri ketika bisa menatap matahari, menghirup udara pagi, melepaskan angan setinggi fajar menyingsing berbalut awan. Kenapa tidak itu yang kau lakukan? tambahnya.

****

Sembab mataku mengingat ucapan bunda kala itu. Aku sekarang terkekang disebuah kamar. Disebuah tempat yang sulit rasanya sebatas jempol menyentuh lantai. Perut kebawah, tidak berarti lagi. Terangkut oleh kursi roda.

Syukur.... sekarang aku kehilangan momentum untuk mensyukuri pagi lagi diluar rumah.
Syukur.... adalah satu kata, namun maknanya melebihi prosa berjilid tujuh. Aku kehilangan makna.

"Bunda... aku salah" leleh air mataku.

bunda memeluk dan berbisik

"syukuri lah nak walau sedikit, kau sempat divonis kehilangan penglihatan dan pendengaran, tapi tuhan berkata lain"

Berharap Anugrah akan Kekasih

Sempat hilang semangat hidupku. Kelam masa mudaku yang terkikis oleh kepasrahan. Ya, aku pernah mengubur dalam - dalam setiap rona dari mimpiku. Aku, tak ubahnya seonggok sampah yang membusuk. Semakin membusuk, berlalat terlebih lagi. Pernah kudeklarasikan pada bintang, aku akan melihat dunia lebih dekat. Tapi hitam itu telah memperdayaku. Memberikan kenyamanan, meninabobokkan, dan meniup belakang kelopak telingaku. Hingga aku terbang, hingga aku terbakar arah. Tak terhitung sudah berapa ton kemalasan yang membebaniku seraya selimut sutera.

 "Inikah aku?" dalam hati lirih, perlahan meminta kejelasan agar benar adanya diri ini. Ragu apakah hanya sebatas tabir. Bahkan lebih kasat lagi.

Aku sangat hina. Bagaikan seekor bebek yang tenggelam ketika bersama dengan rekan - rekanku dalam mengarungi sungai. Ya, anggap saja seperti itu aku dalam keluarga. Terlambat... serba terlambat. Sepertinya harus ada yang diupgrade dari otakku. Mengapakah perbedaan ini menyesakkan. Mengapa pencarian jati diri menjerembabkan aku pada orkestra kematian. Mati yang kurasa anganku. Aku terlena dan semakin terlena akan kepasrahan. Studiku, cita-citaku, tempat - tempat impianku, mencemoohku sembari melambaikan tangan pertanda mereka telah membuatku tak bisa menjamah.

Seolah...

Lumpuh rasanya. Menerawang jauh kembali pun hanya akan menambah sesak. Lentera yang meredup, kerikil tajam, badai, dan terik. Aku sekarang pada gelisah yang meradang. Kebutuhan yang lain. Ya, sejatinya aku belum memilikinya, dan ingin memilikinya.

Putih... adalah warna yang kudambakan. Terlebih dalam memutihkan kegelapanku. Minimal rona wajahku terhadap dunia.

Api.... aku butuh api. Bakar saja kemalasan dengan makian. Tampar aku dengan panasmu, sehingga aku bangun, aku melawan arah yang menyejukkan namun memekakkan telinga

Melodi.... indah anganku, lelap aku, dinginkanku. Untaian yang membuat air mata luntur. Yang mengubah kehidupan ini dengan simfoni. Mendengar masa depan, menyanyikan cerita keberhasilan

Pelangi... hilangkan gelap dan kusam hari. Temani matahari yang berbalut hujan rintik. Ubah dunia dengan goresan warna Ilahi. Meskipun jauh tak tergapai, tapi warnanya kekal.

Makna... desingkanlah dalam bawah sadar. Agar terganti persepsi hanyut menjadi juang. Aku yang lelah akan hari, yang hampir mati akan fatamorgana. Dekaplah erat


Mungkin hanya berangan. Tapi itu ANUGERAH yang pasti kusyukuri. Kita berlayar bersama. Kita cari arti kehidupan.

Semua itu terbalut dalam KEKASIH
Ia adalah Anugerah