Selesai!!
Sorak - sorai, gegap - gempita, semua berkolaborasi didalam fikiranku. Batinku terasa bebas. Kini tak lagi terkekang. Enam bulan lamanya, sebuah moment yang tentu saja sangat sayang untuk dilupakan, tapi, tidak juga untuk dirasa lebih.
Enam bulan itu adalah masa yang sangat sepi. Sepi karena harus berpacu dengan deadline jika tak ingin masa depan menolakku mentah - menah. Sepi disini mungkin lain, walaupun sejatinya tak sepi karena aku tak sendirian berjibaku dengannya lantaran berteman dengan berbagai macam puisi dan lagu seperti; Cahaya Bulan, Sebatang Lisong, Lithium, New Devide, dan yang lainnya, tapi tetap tak bisa dipungkiri aku sepi lantaran intensitas bersama ia menjadi kurang. Ya, kurang sekali.
Kulihat bintang sangat bersahaja diluar sana. Kurasa angin silih berganti mendekapku. Semuanya begitu nyata, begitu damai, sedamai mungkin hariku esok. Hari penentuan, hari pelampiasan 4 tahun masa kuliahku dalam sebuah ruang berisikan tiga orang audiens. Kuikrarkan dalam batinku, dalam bawah sadarku, aku telah siap, aku telah menguasai, biarlah esok yang menjadi saksi.
Itu kadang membuatku risih. Serisih dengan sebuah bingkisan misterius yang kuletakkan dipojok kamar. Sebuah bingkisan yang dipaket dari Adelaide oleh si dia yang katanya sih agar ia selalu ada didekatku. Entah itu apa, bentuknya kotak, tapi tak akan kubuka jika memang mengganggu. Dan tentu saja dengan pesan yang bertubi - tubi datang ke ponselku, masih dari dia. Aku hanya menjawab dengan sebatas kata yang ringkas.. 'ya dan terima kasih'
Sekarang... kuserahkan pada hari esok
******
'Pak bu, aku lulus, sekarang aku telah menjadi sarjana' ceritaku pada pembicaraan singkat via telepon. Berlinang, airmataku kala itu. Tak lama berselang aku dengar sebuah suara yang lentik 'Bagaimana keadaanmu sayang?', dan tentu saja kubagi cerita ini kepadanya, betapa perjuanganku selama kurang lebih 30 - 45 menit dalam persidangan. Dia hanya mengungkapkan 'selamat ya'
Sungguh luar biasa
'Sayang, terimakasih untuk semua motivasi yang kamu berikan selama ini. Kelulusanku mungkin dambaanku sejak dulu. Kelulusanku mungkin obat penyejuk hati orang tuaku. Tapi kamu harus tahu, kamu juga punya andil sayang. Walaupun kadang aku sepi tanpamu, tapi yang lebih indah adalah aku dapat membaca pesanmu, mendengar suaramu, mengetahui kamu bahagia karena ku. Setelah ini kita akan bahagia bersama dalam bahtera'
Tidak ada komentar:
Posting Komentar