Kujemput Kau, Aisyah
by Ahmad fardil khalidi (@fardealz)
liar tidurku kali ini. Ada sesuatu yang membuat resah. Wajahnya elok, melayangkan imaji seolah akan terjadi kisah indah pada beberapa waktu akan datang.
Aisyah, malang melintang ia. Mengubah raut kamarku yang berantakan menjadi dekorasi perpustakaan Ali Alatas. Hening, khidmat, bertabur romansa.
Ia datang, tersenyum menyapa "sedang tidak ada kerjaan?". Ia pergi, detak jantung semakin bergemuruh, berpacu dengan insulin.
Begitu seterusnya, lima, enam, mungkin tujuh kali. sesekali panggung itu bergeser pada suatu ketika ia menyapa dengan lirih, pada suatu sofa hitam dengan koran kompas, dan majalah gatra sebagai hiasan. "Rizal, kita makan siang bersama, maukah?"
“hmm… maaf Aisyah, maukah kau tunggu sebentar lagi. Barang 5 – 7 menit? Aku sedang mencoba menyelesaikan bahan presentasi diplomasi ekonomi” jawabku, mencoba berpura padahal sejatinya ingin.
“tidak apa, mungkin kubantu agar lebih cepat?”
Ya tuhan…. Itu wajah penuh keindahan. Wajah yang mungkin menjanjikan sebuah kepastian yang akan kuperkenalkan dengan orang tua ku.
Dalam hati ku berbisik “dia tepat, dia adalah yang aku inginkan, akan kupersunting ia setelah pernikahan kakak laki – laki ku”, sambil sesekali ia memperlihatkan gestur dengan menyenggol – nyenggol pundak, dan telapak kaki ku
Aku untai sebuah kalimat untuk memuji, tapi tenggorokan seperti ada yang mengekang. Dan entah kenapa ia sekarang adalah Arafah?? Dan siapa itu lelaki dibelakangnya?. Ia memberikan sebuah cincin dan kemudian pergi berdua. Dan aku pun belum bisa bersuara.
“arrrrggghhh…” ilusi rupanya. Diluar matahari mengajakku untuk bergegsa rupanya. Tak terasa 1 jam aku dibawah alam sadar seusai berkhalwat dengan Tuhan diwaktu subuh. Aku yakinkan dia Aisyah adalah pilihanku, dan tak mau terulang seperti enam bulan lalu kepada Arafah
Akan kujemput ia
by Ahmad fardil khalidi (@fardealz)
liar tidurku kali ini. Ada sesuatu yang membuat resah. Wajahnya elok, melayangkan imaji seolah akan terjadi kisah indah pada beberapa waktu akan datang.
Aisyah, malang melintang ia. Mengubah raut kamarku yang berantakan menjadi dekorasi perpustakaan Ali Alatas. Hening, khidmat, bertabur romansa.
Ia datang, tersenyum menyapa "sedang tidak ada kerjaan?". Ia pergi, detak jantung semakin bergemuruh, berpacu dengan insulin.
Begitu seterusnya, lima, enam, mungkin tujuh kali. sesekali panggung itu bergeser pada suatu ketika ia menyapa dengan lirih, pada suatu sofa hitam dengan koran kompas, dan majalah gatra sebagai hiasan. "Rizal, kita makan siang bersama, maukah?"
“hmm… maaf Aisyah, maukah kau tunggu sebentar lagi. Barang 5 – 7 menit? Aku sedang mencoba menyelesaikan bahan presentasi diplomasi ekonomi” jawabku, mencoba berpura padahal sejatinya ingin.
“tidak apa, mungkin kubantu agar lebih cepat?”
Ya tuhan…. Itu wajah penuh keindahan. Wajah yang mungkin menjanjikan sebuah kepastian yang akan kuperkenalkan dengan orang tua ku.
Dalam hati ku berbisik “dia tepat, dia adalah yang aku inginkan, akan kupersunting ia setelah pernikahan kakak laki – laki ku”, sambil sesekali ia memperlihatkan gestur dengan menyenggol – nyenggol pundak, dan telapak kaki ku
Aku untai sebuah kalimat untuk memuji, tapi tenggorokan seperti ada yang mengekang. Dan entah kenapa ia sekarang adalah Arafah?? Dan siapa itu lelaki dibelakangnya?. Ia memberikan sebuah cincin dan kemudian pergi berdua. Dan aku pun belum bisa bersuara.
“arrrrggghhh…” ilusi rupanya. Diluar matahari mengajakku untuk bergegsa rupanya. Tak terasa 1 jam aku dibawah alam sadar seusai berkhalwat dengan Tuhan diwaktu subuh. Aku yakinkan dia Aisyah adalah pilihanku, dan tak mau terulang seperti enam bulan lalu kepada Arafah
Akan kujemput ia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar