Sempat hilang semangat hidupku. Kelam masa mudaku yang terkikis oleh kepasrahan. Ya, aku pernah mengubur dalam - dalam setiap rona dari mimpiku. Aku, tak ubahnya seonggok sampah yang membusuk. Semakin membusuk, berlalat terlebih lagi. Pernah kudeklarasikan pada bintang, aku akan melihat dunia lebih dekat. Tapi hitam itu telah memperdayaku. Memberikan kenyamanan, meninabobokkan, dan meniup belakang kelopak telingaku. Hingga aku terbang, hingga aku terbakar arah. Tak terhitung sudah berapa ton kemalasan yang membebaniku seraya selimut sutera.
"Inikah aku?" dalam hati lirih, perlahan meminta kejelasan agar benar adanya diri ini. Ragu apakah hanya sebatas tabir. Bahkan lebih kasat lagi.
Aku sangat hina. Bagaikan seekor bebek yang tenggelam ketika bersama dengan rekan - rekanku dalam mengarungi sungai. Ya, anggap saja seperti itu aku dalam keluarga. Terlambat... serba terlambat. Sepertinya harus ada yang diupgrade dari otakku. Mengapakah perbedaan ini menyesakkan. Mengapa pencarian jati diri menjerembabkan aku pada orkestra kematian. Mati yang kurasa anganku. Aku terlena dan semakin terlena akan kepasrahan. Studiku, cita-citaku, tempat - tempat impianku, mencemoohku sembari melambaikan tangan pertanda mereka telah membuatku tak bisa menjamah.
Seolah...
Lumpuh rasanya. Menerawang jauh kembali pun hanya akan menambah sesak. Lentera yang meredup, kerikil tajam, badai, dan terik. Aku sekarang pada gelisah yang meradang. Kebutuhan yang lain. Ya, sejatinya aku belum memilikinya, dan ingin memilikinya.
Putih... adalah warna yang kudambakan. Terlebih dalam memutihkan kegelapanku. Minimal rona wajahku terhadap dunia.
Api.... aku butuh api. Bakar saja kemalasan dengan makian. Tampar aku dengan panasmu, sehingga aku bangun, aku melawan arah yang menyejukkan namun memekakkan telinga
Melodi.... indah anganku, lelap aku, dinginkanku. Untaian yang membuat air mata luntur. Yang mengubah kehidupan ini dengan simfoni. Mendengar masa depan, menyanyikan cerita keberhasilan
Pelangi... hilangkan gelap dan kusam hari. Temani matahari yang berbalut hujan rintik. Ubah dunia dengan goresan warna Ilahi. Meskipun jauh tak tergapai, tapi warnanya kekal.
Makna... desingkanlah dalam bawah sadar. Agar terganti persepsi hanyut menjadi juang. Aku yang lelah akan hari, yang hampir mati akan fatamorgana. Dekaplah erat
Mungkin hanya berangan. Tapi itu ANUGERAH yang pasti kusyukuri. Kita berlayar bersama. Kita cari arti kehidupan.
Semua itu terbalut dalam KEKASIH
Ia adalah Anugerah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar