Ia hanya duduk terdiam,menunggu dalam penantian akan resapan belaian mentari. Sepuluh mungkin duapuluh menit lagi. Tungku api tak segarang semalam. Kini hanya menyisakan arang - arang kecil dan tarian mungil sang Api.
Itu adalah pemandangan yang kusaksikan dari balik tenda. Rupanya rekanku ini sudah lebih dulu bangun. Dalam hati bertaut riang lagi ketidakpuasan. Tidak puas karena tak bisa lebih dulu, dan riang karena pada kenyataannya ada teman yang juga menunggu fajar
"Dingin ya" sapa ku sambil menggosok - gosokkan kedua tangan
"Kau tau ini adalah pagi, ini pagi yang penuh kedamaian, sukacita, dan bahkan taste of friendship antara kita, rekan - rekan se-penakluk ketinggian" imbuhnya penuh dengan binar diwajah, Seperti memang sudah ia nantikan
"Masih gelap ini kawan, mengakapah kau rela melawan dinginnya alun - alun Mandalawangi?" tanyaku, yang telah berselimut pertanyaan akan pencarian esensi pagi
"pagi ini, di sebuah lembah ini, kita akan menyaksikan mahakarya sang pencipta yang menyongsong di ufuk timur, pernahkah kau bayangkan betapa indahnya panorama disini, di Mandalawangi. Kau bisa lihat disanalah kita akan menjadi saksi keindahan agung" sambil menunjuk sebuah bukit dimana tertancap prasasti penanda puncak tertinggi Pangrango"
kita berdua bergegas, menghiraukan kelima rekan kami yang masih terjaga lantaran tak elok jika harus menyudahi mimpi panjangnya yang dalam balutan lelah. Tak lama kita menapaki puncak tertinggi.
"Subhanallah indahnya.... " riuhku dalam hati, dan tak malu juga kuungkapkan padanya
Memang bukan tahayul apa yang diungkapkannya. Sesekali aku menerawang jauh, seolah pemikiranku terbang kesana kemari. Aku, dalam bayangan, dalam imajinasi, apa sebenarnya yang ada disana, bentang alam yang seberapa besar lagi. Masih ada Ciremai, Cikuray, Salak, Slamet, Mahameru, dan lain lagi. Aku hanyalah kecil dibanding sang Pencipta. Hanya itulah yang sanggup aku bayangkan, betapa mahadahsyatnya alam ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar