Kamis, 08 November 2012

Penantian Panjang

Selesai!!

Sorak - sorai, gegap - gempita, semua berkolaborasi didalam fikiranku. Batinku terasa bebas. Kini tak lagi terkekang. Enam bulan lamanya, sebuah moment yang tentu saja sangat sayang untuk dilupakan, tapi, tidak juga untuk dirasa lebih.

Enam bulan itu adalah masa yang sangat sepi. Sepi karena harus berpacu dengan deadline jika tak ingin masa depan menolakku mentah - menah. Sepi disini mungkin lain, walaupun sejatinya tak sepi karena aku tak sendirian berjibaku dengannya lantaran berteman dengan berbagai macam puisi dan lagu seperti; Cahaya Bulan, Sebatang Lisong, Lithium, New Devide, dan yang lainnya, tapi tetap tak bisa dipungkiri aku sepi lantaran intensitas bersama ia menjadi kurang. Ya, kurang sekali.

Kulihat bintang sangat bersahaja diluar sana. Kurasa angin silih berganti mendekapku. Semuanya begitu nyata, begitu damai, sedamai mungkin hariku esok. Hari penentuan, hari pelampiasan 4 tahun masa kuliahku dalam sebuah ruang berisikan tiga orang audiens. Kuikrarkan dalam batinku, dalam bawah sadarku, aku telah siap, aku telah menguasai, biarlah esok yang menjadi saksi.

Itu kadang membuatku risih. Serisih dengan sebuah bingkisan misterius yang kuletakkan dipojok kamar. Sebuah bingkisan yang dipaket dari Adelaide oleh si dia yang katanya sih agar ia selalu ada didekatku. Entah itu apa, bentuknya kotak, tapi tak akan kubuka jika memang mengganggu. Dan tentu saja dengan pesan yang bertubi - tubi datang ke ponselku, masih dari dia. Aku hanya menjawab dengan sebatas kata yang ringkas.. 'ya dan terima kasih'

Sekarang... kuserahkan pada hari esok

******

'Pak bu, aku lulus, sekarang aku telah menjadi sarjana' ceritaku pada pembicaraan singkat via telepon. Berlinang, airmataku kala itu. Tak lama berselang aku dengar sebuah suara yang lentik 'Bagaimana keadaanmu sayang?', dan tentu saja kubagi cerita ini kepadanya, betapa perjuanganku selama kurang lebih 30 - 45 menit dalam persidangan. Dia hanya mengungkapkan 'selamat ya'

Sungguh luar biasa

'Sayang, terimakasih untuk semua motivasi yang kamu berikan selama ini. Kelulusanku mungkin dambaanku sejak dulu. Kelulusanku mungkin obat penyejuk hati orang tuaku. Tapi kamu harus tahu, kamu juga punya andil sayang. Walaupun kadang aku sepi tanpamu, tapi yang lebih indah adalah aku dapat membaca pesanmu, mendengar suaramu, mengetahui kamu bahagia karena ku. Setelah ini kita akan bahagia bersama dalam bahtera'

Matahari Terbit di Mandalawangi

Ia hanya duduk terdiam,menunggu dalam penantian akan resapan belaian mentari. Sepuluh mungkin duapuluh menit lagi. Tungku api tak segarang semalam. Kini hanya menyisakan arang - arang kecil dan tarian mungil sang Api.

Itu adalah pemandangan yang kusaksikan dari balik tenda. Rupanya rekanku ini sudah lebih dulu bangun. Dalam hati bertaut riang lagi ketidakpuasan. Tidak puas karena tak bisa lebih dulu, dan riang karena pada kenyataannya ada teman yang juga menunggu fajar

"Dingin ya" sapa ku sambil menggosok - gosokkan kedua tangan

"Kau tau ini adalah pagi, ini pagi yang penuh kedamaian, sukacita, dan bahkan taste of friendship antara kita, rekan - rekan se-penakluk ketinggian" imbuhnya penuh dengan binar diwajah, Seperti memang sudah ia nantikan

"Masih gelap ini kawan, mengakapah kau rela melawan dinginnya alun - alun Mandalawangi?" tanyaku, yang telah berselimut pertanyaan akan pencarian esensi pagi

"pagi ini, di sebuah lembah ini, kita akan menyaksikan mahakarya sang pencipta yang menyongsong di ufuk timur, pernahkah kau bayangkan betapa indahnya panorama disini, di Mandalawangi. Kau bisa lihat disanalah kita akan menjadi saksi keindahan agung" sambil menunjuk sebuah bukit dimana tertancap prasasti penanda puncak tertinggi Pangrango"

kita berdua bergegas, menghiraukan kelima rekan kami yang masih terjaga lantaran tak elok jika harus menyudahi mimpi panjangnya yang dalam balutan lelah. Tak lama kita menapaki puncak tertinggi.

"Subhanallah indahnya.... " riuhku dalam hati, dan tak malu juga kuungkapkan padanya

Memang bukan tahayul apa yang diungkapkannya. Sesekali aku menerawang jauh, seolah pemikiranku terbang kesana kemari. Aku, dalam bayangan, dalam imajinasi, apa sebenarnya yang ada disana, bentang alam yang seberapa besar lagi. Masih ada Ciremai, Cikuray, Salak, Slamet, Mahameru, dan lain lagi. Aku hanyalah kecil dibanding sang Pencipta. Hanya itulah yang sanggup aku bayangkan, betapa mahadahsyatnya alam ini.

Senin, 05 November 2012

Syukur #FF2in1

"APA SIH KERJAMU HANYA BERMALAS - MALASAN SAJA?"
Bosan aku mendengar santapan khas rutin dipagi hari. Aku hanya menikmati selimutku. Itu saja. Perempuan tua, aku tahu kau mencemaskanku. Biarlah, aku sudah punya rencana dalam hari ini. Aku hanya... aku hanya... sebentar saja menghilangkan sepat dimata.

Entahlah. Seringkali aku juga bersimpati pada engkau bun. Engkau setiap hari subuh - subuh sudah merapikan dagangan, membawa beban yang tak logis untuk ukuran badanmu. Aku ingin bersedih, tapi ya... nanti sajalah.

"memangnya kau tidak punya impian sedikitpun apa?" tanya bunda, walau sebagian besar hanya menjadi lalu - lalang dikepala.

"Bunda selalu saja menanyakan hal ini. Bosan Bun aku sejatinya." Biarlah, ia tidak tahu mungkin. Jawabku.

"Bun... Banyak kawanku yang berselimut dipagi hari. Toh malamnya ia bertamasya, bahagia, kenapa dipermasalahkan sih?"

"Kau ini memang MALAS!!" bunda meninggikan intonasi.

"Kau tahu pagi itu anugerah, syukuri ketika bisa menatap matahari, menghirup udara pagi, melepaskan angan setinggi fajar menyingsing berbalut awan. Kenapa tidak itu yang kau lakukan? tambahnya.

****

Sembab mataku mengingat ucapan bunda kala itu. Aku sekarang terkekang disebuah kamar. Disebuah tempat yang sulit rasanya sebatas jempol menyentuh lantai. Perut kebawah, tidak berarti lagi. Terangkut oleh kursi roda.

Syukur.... sekarang aku kehilangan momentum untuk mensyukuri pagi lagi diluar rumah.
Syukur.... adalah satu kata, namun maknanya melebihi prosa berjilid tujuh. Aku kehilangan makna.

"Bunda... aku salah" leleh air mataku.

bunda memeluk dan berbisik

"syukuri lah nak walau sedikit, kau sempat divonis kehilangan penglihatan dan pendengaran, tapi tuhan berkata lain"

Berharap Anugrah akan Kekasih

Sempat hilang semangat hidupku. Kelam masa mudaku yang terkikis oleh kepasrahan. Ya, aku pernah mengubur dalam - dalam setiap rona dari mimpiku. Aku, tak ubahnya seonggok sampah yang membusuk. Semakin membusuk, berlalat terlebih lagi. Pernah kudeklarasikan pada bintang, aku akan melihat dunia lebih dekat. Tapi hitam itu telah memperdayaku. Memberikan kenyamanan, meninabobokkan, dan meniup belakang kelopak telingaku. Hingga aku terbang, hingga aku terbakar arah. Tak terhitung sudah berapa ton kemalasan yang membebaniku seraya selimut sutera.

 "Inikah aku?" dalam hati lirih, perlahan meminta kejelasan agar benar adanya diri ini. Ragu apakah hanya sebatas tabir. Bahkan lebih kasat lagi.

Aku sangat hina. Bagaikan seekor bebek yang tenggelam ketika bersama dengan rekan - rekanku dalam mengarungi sungai. Ya, anggap saja seperti itu aku dalam keluarga. Terlambat... serba terlambat. Sepertinya harus ada yang diupgrade dari otakku. Mengapakah perbedaan ini menyesakkan. Mengapa pencarian jati diri menjerembabkan aku pada orkestra kematian. Mati yang kurasa anganku. Aku terlena dan semakin terlena akan kepasrahan. Studiku, cita-citaku, tempat - tempat impianku, mencemoohku sembari melambaikan tangan pertanda mereka telah membuatku tak bisa menjamah.

Seolah...

Lumpuh rasanya. Menerawang jauh kembali pun hanya akan menambah sesak. Lentera yang meredup, kerikil tajam, badai, dan terik. Aku sekarang pada gelisah yang meradang. Kebutuhan yang lain. Ya, sejatinya aku belum memilikinya, dan ingin memilikinya.

Putih... adalah warna yang kudambakan. Terlebih dalam memutihkan kegelapanku. Minimal rona wajahku terhadap dunia.

Api.... aku butuh api. Bakar saja kemalasan dengan makian. Tampar aku dengan panasmu, sehingga aku bangun, aku melawan arah yang menyejukkan namun memekakkan telinga

Melodi.... indah anganku, lelap aku, dinginkanku. Untaian yang membuat air mata luntur. Yang mengubah kehidupan ini dengan simfoni. Mendengar masa depan, menyanyikan cerita keberhasilan

Pelangi... hilangkan gelap dan kusam hari. Temani matahari yang berbalut hujan rintik. Ubah dunia dengan goresan warna Ilahi. Meskipun jauh tak tergapai, tapi warnanya kekal.

Makna... desingkanlah dalam bawah sadar. Agar terganti persepsi hanyut menjadi juang. Aku yang lelah akan hari, yang hampir mati akan fatamorgana. Dekaplah erat


Mungkin hanya berangan. Tapi itu ANUGERAH yang pasti kusyukuri. Kita berlayar bersama. Kita cari arti kehidupan.

Semua itu terbalut dalam KEKASIH
Ia adalah Anugerah

Minggu, 04 November 2012

My Unforgettable Pals

tiada hari yang dapat menggantikan
keindahan saat kita terikat kebersamaan
semua fantasi yang kita lukis
dan kesedihan yang tak terharap
berseling menghampiri dan kemudian pergi

bersama kalian ku bisa menjadikan hidup ini berarti
kau hapus airmataku dengan candamu
kau terangi gelapku dengan tawamu
genggaman tanganmu menepiskan semua duka
seolah membungkus semua kegelapan hidupku

karena kalian aku merasa tidak sendiri
setiap ku membuka mata
yang terlihat adalah
hari - hari ku yang semakin mempesona
menerbangkan semua angan ke angkasa
dan biarkanlah itu kawan!!!
membentang sempurna seantero jagad
berteman mentari pagi dengan kehangatan
berselimut cahaya bulan dengan kesejukan
dan biarlah senyum kita terukir disana
sehingga tak akan ada lagi kesedihan yang begitu angkuh

itulah persahabatan kita
yang tak menjadikan perbedaan
sebagai jurang pemisah
walaupun terkadang kita pernah tak saling bicara
dan hampir dihancurkan hanya karena
rebutan cinta...

namun...
tak akan ada yang dapat lari dari takdir waktu
sekuat apapun kita mencoba bertahan
tak akan ada celah untuk kembali ke masa itu
mungkin saat ini kita telah berbeda dunia
tapi bukankah dulu kita pernah mengikrarkan
bahwa perbedaan bukanlah jurang?
akankah keindahan itu terulang lagi?
sementara aku disini dan kau disana
terlampau jau bagi kita
untuk sekedar berbagi cerita

bagaimana dengan mimpi - mimpi kita?
dengan kesedihan - kesedihan?
dengan keceriaan - keceriaan?
akankah semua hilang tak terperi?
wahai engkau yang menjadi budak dunia maya
dan engkau yang telah berselimut keangkuhan
dan engkau yang menikmati udara malam
dan engkau yang tak mengirimkan kabar sedikitpun
dan engkau yang bersandar pada kemewahan
kuaharap kalian takkan dengan mudah melupakannya
mungkinkah berlanjut atau hanya singkat sampai disini?

Balada Serigala Newbie

Delapan cakar hanya bertapak menatap
Menyentuh pun tak akan mengubah mahkota
Mahkota yang indah...
Mahkota menawan...
Yang kita relakan oleh keringat yang terkucur lelah
dan menebarkan surai darah setaman

Kedigdayaan sekilas mempertanyakan muka kita
Empat tempat terhormat tak lebih dari sekedar pelipur jiwa
Karena bukan kekecewaan yang terisak
Melainkan hanya impian yang terhambat

WAHAI SERIGALA!!!
Hutan belantara telah melupakan tajimu!
Camar melotehkan penghinaan jenawi mu
Kabut malam pun enggan membagi kelembutannya kepadamu
Lantas... kau masih saja tersipu??
lantaran kau lebih baik daripada dua saudaramu?

Cakar yang hanya bisa merobek jala sepuluh kali
tapi tidak untuk yang kesebelas kalinya
Auman yang hanya bisa menakuti anak kelinci
tapi tidak untuk melawan takdir nyawa
Dan terjangan kehausan jatidiri
Malah mematahkan kakimu dengan dua sentuhan
maka pupuslah sudah dalam satu pengakhiran

Ambisi....
Cita - cita....
Mungkin hilang untuk saat ini
Kini kita harus merelakan
Tahta yang kita dambakan

Tapi...
serigala takkan habis
Merontalah!
Kejar mangsamu! Namun jangan biarkan kau yang dimangsa!!


(By : Fardil21)

Lembah Keabadian


Perjalanan panjang menemui akhir pada suatu senja
Berselimut dinginnya angin kemesraan kupapahkan langkah lelahku
Wajah - wajah tersenyum tersibak dibalik setangkai bunga
Masihkah kau ada saat hangat tak lagi merasuki raga
Ketika malam tertuang menggigilkan rusukku
Hangatkanku... Hangatkanku...

Langkah kaki membeku saat kutemukan mata air MU
Biarpun 5 helai penghangat tubuh ku kerahkan
Tetesan merah tak lagi terbendung
Kemanakah kau wahai kasih
Biarlah Hutan Sub alpin yang menjadi saksi
Saat kuikrarkan
"KURELA MATI DEMI MENCIUM KELOPAKMU"

Pagi itu di lembah Keabadian
Lembah Mandala wangi
Maha karya sang pencipta menggetarkan hati
Cahaya timur menuntun awan berada di bawah telapak kaki
Tak kuasa melihat keindahan Mu
Dan ingin kunyatan CINTA ku setulus embun pagi
Wahai EDELWEISS!!
Sang penjaga LEMBAH KEABADIAN!

AFK / @fardealz

Perpisahan Untuk Malam Kelabu

Aku bosan...
Dengan segala kebisingan kota
Debu - debu kekhawatiran yang membengkakkan mata
Dan penyesalan kepada Dewi KESEDIHAN
Pemberontakan tak akan berarti
Melainkan perjalanan penyegaran hati
Yang hampir mati..

Pergilah..
Pergilah wahai jiwa muda
Tinggalkan kelamku
Melangkahlah kau kaki menuju hutan Perdamaian

Hutan - hutanku yang rimbun
Bawalah fatamorgana itu menuju cakrawala
Biarkan semuanya menjadi bias
Sehingga tak ada lagi tangisan untuk masa lalu

AKU disini...
Sedang menyampaikan perpisahan...
Untuk malam kelabu

Jakarta 24-07-2010 @terminal kampung rambutan

Oleh - Oleh dari Ciremai

Akhirnya kutemukanmu dalam belaian surya
Dalam rimba hujan tropis
Yang mencabik rusuk - rusukku
Dengan tiupan gelap
Mencekam... meredam...
Membelenggu ruang gerakku yang hampir mati.

Kau basuh keningku yang kian pucat
Kau terima setiap langkah lelahku di atas batuan cadas
Ketika ku tanya mengapa
Kau sajikan jawabannya membentang tersebar
Sejauh awan berkumpul

Kau dan aku cukup tenang disini
Melihat hutan - hutan yang terbelah karena jejak langkah kita
Melihat masa muda yang kian cerah
Secerah langit biru diatasnya
Sejelas Puncak Ciremai berdiri tegap di atas persimpangan Apuy - Palutungan

Inilah kami...
Sang penakluk mimpi
Aku yang karam akan masa lalu semakin membara
Melangkahkan sepatu boot ku menuju singgasana tertinggi
Hingga akhirnya tak terasa berat carriel di punggungku

Pagi itu
Di tanah tertinggi Jawa Barat
Kalian ajarkan aku
Bahwa "mimpi tidak untuk ditinggalkan, melainkan ditaklukkan
Maka kau bisa tersenyum kepada kenistaan dirimu"


Puncak Ciremai  18 September 2010

Jelajah Alam Bawah Sadar


Ketika sang surya tenggelam, bulan menampakkan keribaannya
Disana aku rasakan perbedaan dengan yang lain
Disaat semua orang berbicara tentang realita dan fakta
Aku berbicara tentang kekhlasan, dan kepasrahan kepada alam imajinasi

Cahaya remang - remang memanjakan kelopak mata
mangajak visualisasiku untuk terus berlari kesana kemari
Aku terperangah
Menyaksikan tubuhku terbujur kaku tanpa bisa menggerakkan sekelemit jemari pun
Gempita menyeruak seiring tatapan kepada salah satu jari yang hilang
Kusadari bahwa ini adalah bagian dari Sleep Paralyze
Ketiga mataku lantas bersorai menjelalak menerawang jauh mengikuti satu cahaya terang

Malam itu
Ketika dingin dan kebisuan menyelimuti perjalanan menuju dunia lucid
Aku tegarkan langkah dalam kegelapan dan dalam kebisingan
Melebur dalam chakra ajna dan kemudian mendengungkan resonasi binaural
Lelah memang..
Tapi sensasi yang didapat melebihi kelelahan fikiran yang ku korbankan
Disana aku bermain, berdansa, bernyanyi, seolah hilang sengatan alam nyata
Bermandikan anggur kebahagiaan, aku teriakkan "INI ADALAH ALAMKU, ALAM LUCIDITY"

Gaung gelombang otak kemudian meniupkan ketentraman melewati kedua daun telingaku
Sayup - sayup melepaskan getaran delta menuju alam theta
Kesadaranku hilang... berganti dengan suasana attract love yang disajikan
dentuman demi dentuman orgenta
Dan gemuruh yang berpadu suara natura
Memancarkan kilatan cahaya didepan kelopak mata
Agak menyeramkan tapi tetap kuterima
hingga akhirnya nanti cerita hidupku akan berubah

Karena bukan kenyataan yang dipertanyakan
melainkan perjalanan alam bawah sadar merupakan bagian dari kenyataan itu sendiri

YOU


Nothing is true, but everything is fine
Letting the face raining after all
I know I'm nothing... just become wondering
My heartbreak is sink... confused of sitting for nothing?
I'm tired
nervous
devastated
contemplated
but fear of sin
six peaces I'm trying to write, flown with same angle
How could it has to be?
six peaces I'm trying to read, drawn in the emptiness of words
Why hallucination? just be positive
Can I become like sunbeam? just be positive
Can I trusting only for a glimpse? just be positive
Can a candle flame drawing this dark dream? just be positve
but I don't get it
still don't get it
tears still flowing, or still just be positive?
My leaves getting dried, who knows?
Only you,
you
you
you
you
you

Fallen from the Dead Night

i was fallen from dead night

haunted all worried which go along the side

Stood clear over there, the sun wait for me who have no light

with its color, he served a way

One step... two steps...

Till it's uncounted,how many stride that i've tracked

Every strides are mysterious

Perhaps an enchantment

or also a torment

And perhaps a way toward the eternity



Even you washing my face with your holy light

No change... i still know nothing

This eye... looking around without aim

This ear... invite sound of untruth hissing to stop in

This nose... it makes no odds with lust hunter

This lip...unsheathing words which ready to slash

And this heart...which still desolate without ever tasted a peacefulness



Once.. i'v seen that light lour

i tried to approach..

But, a shield prevent my step

impatiently...i abandoned my plan to touch him

And... for the thousands of times

A turbulence in my heart can't be avoided

Pacing... or...dark forever?



Far in that sky I desire to be like them

Like a dew.... refreshing everything which hanker after

Like a branch... giving a footing for the birds to sing

Like an edelweiss... its fragrant accompany on mountainer who exhausted

Like a moonlight... friend whole creature who is awaking



AFK

apocalypsed


i won't it never happen

night summer was bleeding

with no treasures and trunk's hole

without generous furnace

like a funeral orchestra in a deep sandstorm

solemness, tormented, annihilated, disgraceful

then you look up to the shitty night

for along way to the dawn

in the glamour of bat rider's cage

sound like an aspirin of this head

why is never happen?

why is the shadowy desolate climbs up this back?

i'm just trying to abandon you

sitting you in the mirror of changeable face

like two sides of coin

then the queen of pain waving their beauty solely

heavening my snowy face by their wings

warm me... warm me..

and Cold me... Cold me...

but please don't love me

quixotic, exotic, fantastically contemplated

the jungle will be hesitated waiting for

the little touch of the top of the tongue

and locked hilariously those four leaves

with heaven of blueberry

till the dawn I sleep

standing back in our deep consciousness

the sun of innocence without covers

only smooth shield of waving cold air

don't worry.... i have prepared from the gankings of you

come for three? four? all day long?

because the moon shines upon the guilty

and innocence alike

so there is no more frozen pose of staring at you

forget these lust parade

just to recall at the south and north glimmer

to fix this whole standings

and walking to the rest of youngage

I'm fixing myself

AFK / @fardealz

From The Bottom

At the crowd of the wild 
We spread our blood 
To be awaken at the street 
Watch your feet to the float 
Chase the time with your brian
All filth in
The ant shredder won’t share train 
That should be lain

At fancy face at the start
How long we conceive?
When people tormented by the fart
Around still too naive
Take the safety inside your head
Cover up fast
You cannot even hear that
We need some fresh

The sky is so dirty, an upheaval filling
With critical limitation, want to kill the time
Within deepest mind, the blacktop line so damn
Living in the gasoline, hope won’t die

Counting everyday, an acidic question
Lost in a pray, why should I care?
As a bomb ready to explode, conjuring deep chest wounds
The twilight is waiting, ready to be locked to those grounds

Be brave! Your awakening can defeat it
Rejuvenate up your mind inside, with night of sparkling
But still low from wish, change full discrete
Never be upset down, still the abundance availabilities
The futures are created, if you can maintain necessities

Tell me if you gonna back while bringing the top form
I’ll gonna be like you!


AFK - out there somewhere
4 / 3 / 12

Pieces of Trance

Fly me high, through a subconscious world
We’ll meet there, hey unrealistic birds eye
Separated for a while, without a hold
Release my torment away, without a lie

Breezing the gentle melody
In the middle of crescent’s smile
Haunting the vibrating body
By wearing a wire of induction style

The creepy shadow is on the way
Sticking the soul, forces me to stay
Turning the past, the future is coming
I never get you, event it’s still ongoing

Pieces of trance, pieces of trance
Full of glimmer clairvoyance
We are killed, but never dead
Then eternally joy, we drive ahead



AFK - at a desolation
@fardealz

Maaf, Pelajari Histori Jika Kau Ingin Mengerti


oleh : Ahmad Fardil Khalidi / @fardealz

Di teriknya panas sambil menunggu bus yang mengantarkann ia bertemu rumah, disuatu siang saat ia duduk terpaku pada jalan raya. Sebuah pesan dari ponselnya. “Far, hari ini akan ada sebuah hal yang special. Maukah kita bertemu untuk aku sekedar memberikan hal spesial ini?”
Risau wanita berparas cantik dan berkerudung ini. Seperti sebuah momok yang melunturkan hari – harinya. Ia tahu sudah lama Andika ingin mendekatinya. Tapi sejatinya ia tak tega untuk menolaknya mentah – mentah, meskipun sebenarnya ingin ia memberikan pengertian.
****
Hari ini, hari valentine katanya. Andika hanya terfokus pada sebuah benda yang bisa memberikan arti pada Farah, pujaan hatinya. Ia coba ingat – ingat akan suatu hal yang mungkin bisa membawanya pada sebuah hubungan lebih lanjut.
“berikan saja ia coklat, tidak terlalu besar atau mahal tak apa. Yang penting beri arti pada upayamu” imbuh Rezy, salah seorang sahabat dimanapun Andika merasa galau.
 Ia ikuti sarannya, ia jamah seluruh konter – konter kue yang ada di sekitar rumahnya. Ia rela walau harus rela berpuasa bermain billiard selama tiga pekan, yang sudah menjadi rutinitasnya. Tak hanya kue, gaun berpredikat mahalpun diraupnya. Kemudian dikemas serapih mungkin dan secantik mungkin berikut ia selipkan secerca kertas perlambang perasaannya kala itu
****
“Farah, ini aku Andika. Untuk kali ini saja kita bertemu di taman ujung jalan rumahmu” memelas ia via ponsel, berharap pujaan hatinya memenuhi panggilannya
Lima menit penantian penuh dengan gemuruh disekujur tubuh. Gugup, bercampur takut. Tapi harus dinyatakan ini.
Ia pandangi sudut jalan, arah yang sudah diperkirakan untuk kemunculan pujaan hatinya. Sukacita menyelimuti dirinya ketika wanita berparas ayu na anggun hadir di depannya. Tak bertele – tele ia ungkapkan niatnya untuk menjadi kekasihnya
“maaf Dika, Farah ga bisa menerima ini. Lagi pula kenapa Dika datang pada hari ini?”
“Ini hari valentine Farah. Hari dimana semua orang menyalurkan cinta pada kekasih mereka. Dan bagi Dika, Farah adalah kekasih DIka. Dika sayang banget sebenarnya”
“APAAAAAAA???? Tidak begitu caranya. Pernahkah kau belajar sejarah? Sekarang hari apa? hari Valentine katamu. Maaf aku tidak bisa. Aku tidak bisa, apalagi harus jadi kekasihmu dengan cara seperti ini. Kau tahu, ada sebuah sejarah yang memilukanku dibalik tanggal ini. Sejarah yang mengoyak batinku karena agamaku. Datanglah lain kali, setelah kau paham dengan siapa kau ingin menjalin. Terutama hari ini. Maaf, Pelajari Histori jika kau ingin mengerti”

Kujemput Kau, Aisyah

Kujemput Kau, Aisyah
by Ahmad fardil khalidi (@fardealz)

liar tidurku kali ini. Ada sesuatu yang membuat resah. Wajahnya elok, melayangkan imaji seolah akan terjadi kisah indah pada beberapa waktu akan datang.

Aisyah, malang melintang ia. Mengubah raut kamarku yang berantakan menjadi dekorasi perpustakaan Ali Alatas. Hening, khidmat, bertabur romansa.

Ia datang, tersenyum menyapa "sedang tidak ada kerjaan?". Ia pergi, detak jantung semakin bergemuruh, berpacu dengan insulin.

Begitu seterusnya, lima, enam, mungkin tujuh kali. sesekali panggung itu bergeser pada suatu ketika ia menyapa dengan lirih, pada suatu sofa hitam dengan koran kompas, dan majalah gatra sebagai hiasan. "Rizal, kita makan siang bersama, maukah?"

“hmm… maaf Aisyah, maukah kau tunggu sebentar lagi. Barang 5 – 7 menit? Aku sedang mencoba menyelesaikan bahan presentasi diplomasi ekonomi” jawabku, mencoba berpura padahal sejatinya ingin.
“tidak apa, mungkin kubantu agar lebih cepat?”
Ya tuhan…. Itu wajah penuh keindahan. Wajah yang mungkin menjanjikan sebuah kepastian yang akan kuperkenalkan dengan orang tua ku.
Dalam hati ku berbisik “dia tepat, dia adalah yang aku inginkan, akan kupersunting ia setelah pernikahan kakak laki – laki ku”, sambil sesekali ia memperlihatkan gestur dengan menyenggol – nyenggol pundak, dan telapak kaki ku
Aku untai sebuah kalimat untuk memuji, tapi tenggorokan seperti ada yang mengekang. Dan entah kenapa ia sekarang adalah Arafah?? Dan siapa itu lelaki dibelakangnya?. Ia memberikan sebuah cincin dan kemudian pergi berdua. Dan aku pun belum bisa bersuara.
“arrrrggghhh…” ilusi rupanya. Diluar matahari mengajakku untuk bergegsa rupanya. Tak terasa 1 jam aku dibawah alam sadar seusai berkhalwat dengan Tuhan diwaktu subuh. Aku yakinkan dia Aisyah adalah pilihanku, dan tak mau terulang seperti enam bulan lalu kepada Arafah
Akan kujemput ia